RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah Bojonegoro (STITMubo) mengikuti sesi praktik kewirausahaan dengan fokus pada pembuatan es teh sebagai peluang usaha rumahan untuk pemula. Kegiatan ini dilaksanakan di sela-sela perkuliahan mata kuliah Kewirausahaan.
Es teh, minuman populer yang telah menjadi bagian dari budaya Indonesia, digemari berbagai kalangan karena rasanya yang menyegarkan dan harganya yang terjangkau. Menyadari cuaca Bojonegoro yang terik pada bulan Oktober ini, usaha es teh dianggap sangat menjanjikan. Popularitasnya terbukti dari banyaknya kedai, bahkan dengan container box yang tersebar di pelosok desa hingga setiap gang, yang menawarkan berbagai variasi rasa dan topping. Fenomena ini menunjukkan potensi besar es teh untuk terus berkembang, asalkan pelaku usaha mampu memahami dan beradaptasi dengan perubahan selera konsumen.
Berdasarkan data Asosiasi Minuman Ringan Indonesia (ASRIM), konsumsi teh di Indonesia terus tumbuh, mencapai 5% pada tahun 2022. Usaha Kecil dan Menengah (UKM) es teh di Indonesia juga berkembang pesat dan signifikan dalam industri minuman, dengan UKM sektor minuman menyumbang sekitar 10% dari total UKM di Indonesia pada tahun 2021 (Kementerian Koperasi dan UKM).
Pelatihan pembuatan es teh ini dipandu oleh Bapak Tariyono, Dosen Mata Kuliah Kewirausahaan sekaligus pemilik kedai "Mas Paedjo". Beliau menekankan bahwa setiap individu memiliki potensi berwirausaha. Memulai usaha tidak harus dengan modal besar, tetapi yang terpenting adalah kemampuan membaca peluang dan kesungguhan dalam berusaha. Beliau juga memotivasi mahasiswa untuk meraba keterampilan yang dimiliki jika merasa ragu dalam memulai.
Sebanyak 22 mahasiswa Prodi PGMI, dari semester 3 hingga semester di atasnya, mengikuti pelatihan ini dengan antusias. Tujuannya adalah menumbuhkan minat dalam Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Diharapkan, dengan jadwal kuliah yang dimulai pukul 13.00, mahasiswa dapat merintis usaha secara mandiri di sela waktu kuliah, bahkan kelak dapat mengembangkan bisnis franchisee.
Mengingat banyaknya kedai es teh di Bojonegoro, Bapak Tariyono juga menyampaikan motivasi kedua, yaitu menerapkan konsep Amati, Tiru, dan Modifikasi (ATM). Mahasiswa didorong untuk menganalisis berbagai jenis es teh yang sudah ada dengan rasa mixology, sehingga mereka mampu membedakan produk, serta mengimprovisasi jenis dan rasa baru.
Dalam praktik ini, mahasiswa diajarkan tahapan penting, mulai dari cara memilih daun teh kemasan, mencampur bahan teh (mix), durasi perebusan teh dengan gula, hingga proses penyaringan dan pengemasan dalam cup ukuran 16. Setiap penjual didorong untuk menciptakan ciri khas sesuai nama kedainya.
Khoridatul Latifah, Ketua Kelas dan penanggung jawab mata kuliah kewirausahaan, menyambut baik praktik ini. Ia merasa sangat terbantu karena cara pembuatan es teh yang mudah dipraktikkan dengan aroma dan rasa yang khas. Mahasiswi asal Desa Sumberagung, Kecamatan Dander, ini berharap bisa segera memulai usaha di sela-sela kuliah.
Setelah proses pembuatan dan pengemasan selesai, produk es teh diuji rasa (tester) oleh Ibu Miftakhur Rizki, M.Pd., Kepala Program Studi (Kaprodi) PGMI. Beliau mengapresiasi dan menyatakan sangat puas dengan hasilnya. "Warnanya pekat, sedikit sepet, dan manisnya pas, rasa tehnya menyatu," ujarnya sambil menyeruput es teh. Ibu Kaprodi memotivasi mahasiswa PGMI agar sukses dalam perkuliahan dan berhasil merintis usaha UMKM dengan memanfaatkan strategi keunggulan es teh yang dijual. Antusiasme yang sama juga datang dari Ninik Listiana, yang mereviu rasa es teh praktik ini sebagai "pas pahit, manis, dan segar sampai tetes terakhir" yang merupakan hasil dari percampuran (mix) bahan. (*)
Penulis
Maria Ulfa/T.Thamrin
Editor : M. Nurkhozim