Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Amerika Serikat Lancarkan Agresi Militer ke Venezuela, Presiden Ikut Ditangkap dan Bakal Diadili

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 4 Januari 2026 | 16:33 WIB
Nicolas Maduro saat dikawal oleh pasukan DEA dan Delta Force AS pada Sabtu (3/1). (Dok. AP)
Nicolas Maduro saat dikawal oleh pasukan DEA dan Delta Force AS pada Sabtu (3/1). (Dok. AP)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Baru tiga hari 2026 berjalan, konflik skala internasional baru sudah terjadi. Amerika Serikat memutuskan untuk menyerang Venezuela dan menangkap presiden negara tersebut, Nicolas Maduro dalam operasi militer sepanjang Sabtu (3/1).

Awalnya pada Sabtu sore WIB, berbagai media Venezuela dan internasional melaporkan berbagai ledakan terjadi di sekitar ibukota negara tersebut, Caracas. Benar saja, tiga jam kemudian Presiden AS, Donald Trump mengkonfirmasi bahwa tidak hanya menyerang Venezuela, mereka juga berhasil menangkap dan menahan Maduro.

Trump sendiri terkenal sudah cukup lama memusuhi Maduro, baik dalam perdagangan maupun politik. Secara garis besar, presiden yang juga konglomerat AS tersebut mempermasalahkan manuver politik rezim Maduro yang ia anggap sebagai diktator, yang juga menyebabkan banyaknya imigran asal Venezuela di AS. Sebaliknya, Maduro sering menuduh Trump ingin menguasai industri minyak dan gas bumi milik Venezuela dengan segala cara.

“Amerika Serikat telah melaksanakan serangan berskala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro. Ia dan istrinya telah ditangkap dan dibawa keluar dari negara tersebut,” ungkap Trump melalui media sosial pribadinya pada Sabtu malam WIB.

Uniknya, foto yang banyak beredar menunjukkan Maduro ditangkap oleh pasukan AS dengan rompi DEA, atau badan antinarkoba AS, alih-alih mengenakan seragam tentara khas mereka. Namun US Army, alias tentara angkatan darat AS, mengkonfirmasi bahwa operasi penangkapan Maduro dilaksanakan di bawah pimpinan unit Delta Force milik mereka, dan bekerja bersama DEA dan FBI, sebagaimana dikutip dari CBS dan CNN.

Beberapa jam kemudian, omongan Trump langsung terbukti. Tidak hanya Kementerian Pertahanan AS memublikasikan foto penahanan Maduro di kapal perang USS Iwo Jima, sekitar Minggu subuh WIB (4/1) Maduro dan istri telah tiba di Amerika Serikat. Rencananya, Maduro akan menjalani sidang dengan tuduhan berlapis, termasuk penyebaran narkotika.

“Tuntutan kami sudah jelas: Peredaran narkoba harus dihentikan, dan semua minyak bumi yang dicuri Venezuela harus dikembalikan ke AS. Maduro menjadi sosok terbaru yang bakal sadar bahwa Presiden Trump memegang omongannya, dan kini dia tidak bisa menghindar peradilan hanya karena tinggal di negara berbeda,” ujar Wakil Presiden AS, J.D. Vance di media sosial pribadinya.

Saat ini, The Independent dan NBC melaporkan Maduro dan istrinya ditahan di mabes DEA di distrik Manhattan, New York. Sehingga diyakini sidang pengadilan Maduro bakal dilaksanakan di wilayah yang sama mulai Minggu.

Foto rilis penangkapan Nicolas Maduro, sebagaimana diterbitkan oleh Presiden AS, Donald Trump. (Dok. CNN)
Foto rilis penangkapan Nicolas Maduro, sebagaimana diterbitkan oleh Presiden AS, Donald Trump. (Dok. CNN)

Dengan ditangkapnya dan diseretnya Maduro ke AS, saat ini pemerintahan Venezuela memiliki kekosongan jabatan kepala negara. Meskipun pemerintahan negara masih utuh, Trump memilih rencana membentuk pemerintahan transisi di bawah kendali pemerintahan AS.

“Kita akan mengendalikan pemerintahan hingga saatnya tiba untuk melakukan transisi yang aman dan damai. Kami tidak ingin pemerintahan diambil oleh pihak yang tidak mengutamakan kepentingan masyarakat Venezuela,” kalim Trump dalam konferensi pers penangkapan Maduro pada Minggu subuh, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Ketika disinggung tentang siapa yang bakal menjadi penjabat presiden, Trump mengaku masih pikir-pikir. Namun dirinya mengisyaratkan tidak akan melibatkan tokoh-tokoh rezim Maduro, dengan pertimbangan tuduhan Trump atas hasil pemilihan presiden Venezuela sebelumnya yang diklaim dimanipulasi.

“Kita lihat dulu, yang jelas sebagaimana kita tahu mereka masih punya wakil presiden. Namun saya tidak percaya hasil pilpres kemarin, dia (Maduro) hasil pilpresnya dimanipulasi, dan saya yakin masyarakat tidak benar-benar menyukainya,” tambah Trump.

Tentu, pemerintahan Venezuela langsung menolak usulan tersebut. Termasuk Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez yang saat ini masih membawahi pemerintahan Venezuela secara sah.

“Kami menuntut pembebasan Nicolas Maduro dan istrinya dari AS. Kami hanya punya satu presiden, yakni Nicolas Maduro," ujar Delcy pada Minggu pagi, sebelum ditunjuk sebagai penjabat presiden oleh Mahkamah Agung Venezuela. (edo)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#internasional #amerika serikat #presiden as #Caracas #donald trump #jd vance #venezuela #new york #konflik #maduro #trump #Delta Force #agresi militer #nicolas maduro #Narkoba