RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Mengapa Amerika Serikat selalu membela Israel? Meskipun Israel selama ini telah melakukan genosida terhadap Palestina.
Pernyataan itu selalu muncul di benak semua orang. Sebab, sejauh ini, hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Israel sering digambarkan sebagai "aliansi strategis tak tergoyahkan" atau special relationship.
Dukungan AS terhadap Israel, baik dalam bentuk bantuan militer, ekonomi, maupun penggunaan hak veto di Dewan Keamanan PBB, merupakan salah satu kebijakan luar negeri AS yang paling konsisten sejak berdirinya Israel pada tahun 1948.
Ada 3 faktor kompleks yang menjadi landasan dukungan kuat ini:
1. Kepentingan Strategis dan Keamanan Bersama (Geopolitik)
Bagi AS, Israel tidak hanya hanya dilihat sebagai sekutu ideologis, melainkan aset strategis vital di kawasan Timur Tengah yang kompleks dan kaya sumber daya.
Pangkalan Strategis di Timur Tengah
Selama Perang Dingin, Israel menjadi benteng pertahanan utama AS dalam menahan pengaruh Uni Soviet di Timur Tengah.
Hingga kini, Israel berfungsi sebagai mitra intelijen dan keamanan yang andal, menawarkan keunggulan militer dan teknologi untuk menjaga stabilitas regional dari ancaman bersama (seperti Iran dan kelompok ekstremis).
Keunggulan Militer Kualitatif (QME)
AS secara eksplisit berkomitmen untuk menjaga Keunggulan Militer Kualitatif atau Qualitative Military Edge (QME) Israel atas negara-negara tetangganya.
Komitmen ini diwujudkan melalui bantuan militer masif (mencapai miliaran dolar per tahun) dan kerja sama pengembangan teknologi pertahanan, seperti sistem anti-rudal Iron Dome.
Kerja Sama Teknologi
Israel merupakan salah satu pusat inovasi teknologi, termasuk di bidang militer dan cyber security. Kerja sama ini saling menguntungkan, di mana teknologi Israel sering diintegrasikan ke dalam sistem pertahanan AS.
2. Faktor Politik Domestik (Lobi dan Pemilih)
Dukungan terhadap Israel adalah isu bipartisan (didukung oleh Partai Republik maupun Demokrat) yang sangat dipengaruhi oleh dinamika politik internal AS.
Lobi Israel yang Kuat
Salah satu faktor paling signifikan adalah kehadiran Lobi Israel yang terorganisasi dengan baik (contohnya American Israel Public Affairs Committee - AIPAC).
Lobi ini aktif memberikan donasi kampanye dan dukungan politik kepada kandidat Kongres dan Presiden dari kedua partai yang bersikap pro-Israel.
Hal ini membuat banyak politisi enggan mengambil kebijakan yang dianggap anti-Israel karena berisiko kehilangan dukungan elektoral dan pendanaan.
Pengaruh Kelompok Religius
Komunitas Yahudi Amerika yang memiliki ikatan sejarah dan budaya yang mendalam dengan Israel, serta Kristen Evangelis Amerika, memberikan dukungan yang sangat vokal.
Bagi banyak Evangelis, dukungan terhadap Israel adalah masalah teologis dan kenabian. Kelompok-kelompok ini merupakan konstituen pemilih yang besar dan berpengaruh, terutama bagi Partai Republik.
3. Ikatan Historis dan Nilai Demokrasi
Hubungan ini juga berakar pada nilai-nilai yang diklaim bersama dan sejarah yang panjang.
Nilai Demokrasi
AS memandang Israel sebagai satu-satunya negara demokrasi yang stabil di Timur Tengah, sebuah nilai yang dijunjung tinggi dan ingin dilindungi oleh AS.
Dukungan Sejarah
AS adalah negara pertama yang mengakui Israel pada 14 Mei 1948, hanya beberapa menit setelah deklarasi kemerdekaan. Ikatan sejarah ini mengukuhkan narasi aliansi khusus yang sulit diputus.
Simpati Publik
Simpati publik AS terhadap Israel, yang diperkuat oleh tragedi Holocaust dan ancaman keamanan yang dihadapi Israel sejak pendiriannya, sering kali memperkuat dukungan politik terhadap negara tersebut. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko