RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Hingga Jumat siang (10/10), publik dunia dan bahkan sesama pemimpin negara di berbagai belahan bumi menjagokan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk memenangkan penghargaan Nobel Perdamaian edisi 2025. Namun ternyata panitia dari Institut Nobel berkata lain.
Jumat sore, institut dan jajaran panitia mengumumkan bahwa Nobel Perdamaian dianugerahkan kepada tokoh asal Venezuela, Maria Corina Machado. Serupa dengan Trump, Maria juga seorang politisi di negaranya, namun dengan latar belakang aktivis dan insinyur, berbeda dengan Trump yang dulunya diplomat dan pebisnis.
Pandangan para panitia Nobel Perdamaian, Maria telah berhasil memerjuangkan dan mengembalikan demokrasi ke Venezuela, memanfaatkan posisinya sebagai anggota partai oposisi. Selain itu, meskipun bukan merupakan pemimpin negara, Maria dianggap berhasil membimbing masa transisi kepemimpinan Venezuela sepeninggal Presiden sebelumnya, Nicolas Maduro yang bertindak represif sebagai diktator.
“Sebagai pemimpin perjuangan demokrasi Venezuela, Maria merupakan salah satu contoh perjuangan sipil luar biasa di era modern. Dengan keberhasilannya menyatukan berbagai pihak untuk menuntut kebebasan berpolitik dan pemilihan umum terbuka, beliau mewakili esensi demokrasi, yakni berpihak kepada rakyat meskipun tidak selalu sepakat,” bunyi pernyataan resmi Institut Nobel.
Sejak 2002 melalui organisasi bentukannya, Sumate, Maria telah memerjuangkan hak-hak demokrasi msayarakat Venezuela, serta hak asasi manusia. Namun perjuangannya menjadi sorotan sejak Nicolas Maduro mulai menjabat sebagai presiden sejak 2013.
Menurut catatan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), selama 12 tahun Maduro menjabat sebagai presiden, lebih dari 20 ribu penduduk Venezuela dibunuh oleh aparat tanpa proses peradilan. Selain itu sejak kepemimpinan pendahulu Maduro, Hugo Chaves, lebih dari delapan juta penduduk terpaksa meninggalkan negara tersebut untuk memperbaiki nasib.
Venezuela sendiri mengalami kemiskinan ekstrem sejak lama, meskipun terkenal sebagai salah satu negara penghasil minyak bumi di Amerika Selatan. “Selain itu di tingkat politik, oposisi sudah lama dibungkam melalui kecurangan pemilu, persidangan hukum dan pemenjaraan,” lanjut rilis resmi institut.
Usaha tersebut memuncak pada pemilihan presiden pada 2024 lalu. Maria sempat maju sebagai calon presiden, namun langsung dihalangi rezim Maduro, sehingga memutuskan untuk terlibat sebagai pemimpin gerakan oposisi yang mengusung Edmundo Gonzalez Urrutia.
Dari situ, Maria melatih para relawan dan pendukung Edmundo sebagai pengawas pemilu independen, serta sebagai pihak dokumentasi pilpres. Sehingga usai pemilihan, Maria dan Edmundo punya bukti pengumpulan suara pilpres yang sah tanpa manipulasi, meskipun hasil tersebut pada akhirnya ditentang oleh Maduro dan pemerintahan.
Usai pilpres tersebut, Maria memutuskan untuk bersembunyi akibat ancaman dari pemerintahan Venezuela, yang hampir merenggut nyawanya hingga awal tahun ini. Pun demikian, panitia memastikan Maria tetap dapat menerima penghargaan, namun mungkin tidak bisa keluar dari Venezuela.
“Hal ini umum terjadi, ketika par apemenang sedang dalam keadaan bersembunyi atau mengasingkan diri demi keselamatan jiwa mereka. Meskipun saat ini sedang bersembunyi, kami memastikan dirinya masih di wilayah Venezuela. Tentu kami berharap dirinya dapat hadir langsung di Oslo pada penyerahan anugerah Desember nanti, namun kami sadar hal tersebut dapat mengganggu keamanannya,” jelas ketua panitia Nobel Perdamaian, Jørgen Watne Frydnes kepada BBC.
Gelar Nobel Perdamaian menjadi pelengkap anugerah bagi Maria, setelah pada 2024 dirinya dianugerahi Penghargaan Kemanusiaan Vaclav Havel karena usahanya dalam pilpres Venezuela. Menurut Edmundo Gonzales yang juga terpaksa mengasingkan diri, Maria sendiri mengaku terkejut mendapat Nobel Predamaian.
"Kami semua terkejut waktu kami bertelepon bersama. Kata dia 'Kok bisa? Sulit dipercaya!'," ungkap Edmundo kepada AFP dan BBC. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana