RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Sebuah perintah eksekusi program dalam software keamanan siber Crowdstrike menyebabkan banyak komputer yang terhubung dalam jaringan perusahaan dan fasilitas umum di berbagai penjuru dunia mengalami galat (error). Akibatnya, tidak hanya komputer tidak dapat dioperasikan, banyak layanan publik yang mengalami gangguan serius akibat galat tersebut.
Diketahui, galat tersebut terjadi pada Jumat (19/7) sekitar pukul 13.00 WIB. Pengamat dan konsultan keamanan siber asal Australia, Troy Hunt pertama kali melaporkan temuan tersebut setelah dikontak oleh beberapa media setempat.
“Saya baru saja dihubungi oleh beberapa agensi media, banyak yang melaporkan sistem operasi Windows milik mereka tiba-tiba error dan memasuki mode recovery. Kira-kira ini mirip prediksi publik tentang fenomena Y2K (ramalan dimana sistem mengalami galat karena data telah mencapai limit perhitungan saat tahun baru 2000), namun kali ini benar-benar terjadi” tulis Hunt di akun Twitter/X miliknya.
Diketahui, galat tersebut terjadi pada komputer berbasis Windows yang dipasangi software (perangkat lunak) keamanan siber Crowdstrike. Software tersebut menawarkan berbagai macam layanan keamanan siber berbasis internet dan kecerdasan buatan, mulai dari antivirus, enkripsi dan proteksi data, hingga otomasi keamanan jaringan.
Setelah ditelusuri, galat berasal dari interupsi yang dilakukan oleh salah satu komponen keamanan Crowdstrike, yakni software Crowdstrike Falcon terhadap proses startup komputer. Developer dan tokoh industri gim video asal Austria, Stefan Reinalter menjelaskan, setelah update yang baru-baru ini diterapkan pada software tersebut, Crowdstrike Falcon bekerja dengan cara menyisipkan dynamic link library (DLL, kurang lebih pustaka kode dan data umum) ke dalam sistem Windows.
“Crowdstrike menyisipkan DLL dari program mereka saat komputer dinyalakan, sehingga terjadi pelanggaran akses data dalam komputer. Sejauh ini, komputer tanpa sistem Crowdstrike tidak ada masalah, namun dalam komputer yang dipasangi Crowdstrike, komputer mengalami galat saat DLL tersebut dijalankan,” jelas Rainier dalam akun Twitter/X miliknya.
Akibat dari galat sistem ini cukup signifikan dan dirasakan di seluruh dunia. Misalnya di Inggris, agensi berita Sky tidak dapat melakukan siaran televisi sepanjang pagi waktu setempat. Kemudian, agensi berita BBC melaporkan, banyak penerbangan yang harus ditunda karena sistem check-in penumpang tidak dapat dioperasikan. Selain itu, sektor perbankan, niaga, kesehatan, dan pendidikan yang juga bergantung pada penyimpanan data di internet turut terkena imbasnya.
Insiden serupa juga dilaporkan terjadi di Amerika Serikat, Australia, Jerman, Spanyol, Jepang dan bahkan India, semua di sektor yang sama. Bahkan Reuters melaporkan, seluruh jaringan internet Australia sempat lumpuh karena penyedia layanan komunikasi Australia, Telstra, juga mengandalkan Crowdstrike untuk keamanan siber. “Sama seperti banyak perusahaan di seluruh dunia, kami juag mengalami galat yang disebabkan oleh isu keamanan siber dari Microsoft dan Crowdstrike,” terang seorang perwakilan Telstra.
Crowdstrike sendiri telah menerima laporan galat tersebut dan menjelaskan bahwa ada komponen dalam software Falcon yang menyebabkan galat. “Crowdstrike telah menerima laporan galat yang berhubungan dengan sensor dalam Falcon. Kami akan segera memperbaiki masalah tersebut, dan pengguna tidak perlu lagi mengirim laporan galat,” tulis pihak Crowdstrike dalam buletin produk mereka.
Selanjutnya, pihak Crowdstrike juga menawarkan solusi sementara untuk galat yang terjadi. Solusi tersebut melibatkan penghapusan data yang membawa update terbaru yang menyebabkan galat terjadi.
CEO Crowdstrike, George Kurtz juga memberikan klarifikasi tentang galat yang menimpa produk perusahaannya, dan mengakui galat berasal dari kesalahan teknis saat pembaruan untuk software Falcon diluncurkan. “Crowdstrike sedang bekerjasama dengan pihak pelanggan terkait untuk memperbaiki masalah yang muncul akibat galat dari konten terbaru kami untuk sistem operasi Windows. Sistem operasi Mac dan Linux tidak terpengaruh oleh pembaruan tersebut,” jelas konglomerat jebolan perusahaan keamanan siber McAfee tersebut.
Kurtz juga mengklaim bahwa para teknisi pimpinannya menemukan solusi atas galat tersebut. “Tim kami telah mengidentifikasi masalah yang ada, serta menemukan solusi terhadap masalah tersebut. Kami akan mengabari pengguna produk kami melalui situs web dan portal dukungan kami untuk informasi lebih lanjut,” sambungnya. (edo/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana