RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Bukan menuntaskan rindu. Tahun baru yang menjadi kesempatan mudik ke kampung halaman bagi sebagian perantau. Justru membawa kabar menyedihkan.
Sebanyak 409 pasangan suami istri mengajukan perceraian di momen awal tahun ini. Didominasi para pekerja urban di kota besar yang pulang ke kampung halaman.
Data Pengadilan Agama (PA) Bojonegoro menyebutkan, total terdapat 409 perkara perceraian yang diterima selama Januari 2026. Didominasi oleh istri yang menggugat cerai suami sebanyak 315 perkara. Dan, cerai talak tercatat 94 perkara.
Panitera PA Bojonegoro, Sholikin Jamik menyampaikan, banyaknya perkara perceraian yang masuk di awal tahun ini mengejutkan. Yakni, terdapat sebanyak 409 perkara di awal 2026. Rerata pihak yang mengajukan perceraian adalah pekerja urban. Jadi, orang desa di Bojonegoro yang bekerja di UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah)-UMKM kota besar, seperti Surabaya. Juga, dari para pekerja pabrik yang mendominasi.
‘’Pas tahun baru pulang, kesempatan untuk mengajukan perceraian. Karena persoalannya sudah terpendam cukup lama bagi mereka, selama di Surabaya atau kota-kota lain tempatnya bekerja. Terbanyak dari pekerja pabrik dan UMKM, seperti penjaga toko,’’ terangnya.
Sholikin melanjutkan, pengajuan perceraian di Bojonegoro selama Januari 2026 ini masih didominasi oleh cerai gugat. Permasalahannya seperti yang banyak terjadi. Yakni, persoalan judi online, pertengkaran dan perselisihan, variabel terbanyak karena keinginan yang terlalu besar dan tidak diimbangi dengan kebutuhan.
‘’Rerata pendidikan terbesar dari lulusan SMP dan bekerja dipabrik. Kemudian, selama bekerja di pabrik itu, berkenalan, menikah dengan basic ekonomi kurang kuat. Tapi, keinginannya sangat besar. Jadi, intinya tidak bisa mengendalikan hawa napsu,’’ ujarnya.
Menurutnya, keinginan yang besar, tapi tidak diimbangi dengan pendapatan. Tentu akan menjadi masalah. Sehingga, solusinya, pelajaran terbaik harus bisa realistis dalam menghadapi kehidupan. Melihat dan mengutamakan kebutuhan, bukan keinginan.
‘’Ketika keinginannya besar, tapi tidak diimbangi. Pasti akan terjadi pertengkaran dan perselisihan. Dimana keduanya tidak saling memahami. Seharusnya, setelah kenal, juga harus saling memahami,’’ pungkasnya. (ewi/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana