Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mengulik Coretan di Senjata Milik Terduga Pelaku Pengeboman SMAN 72 Jakarta, Mulai dari Intimidasi hingga Jejak Sejarah Penembakan

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 9 November 2025 | 00:09 WIB
Sehari setelah insiden pengeboman di masjid SMAN 72 Jakarta, Polisi Polda Metro Jaya dan Polisi Militer TNI AL menjaga bersama-sama komplek sekolah tersebut. (Syahrul Yunizar/ Jawa Pos)
Sehari setelah insiden pengeboman di masjid SMAN 72 Jakarta, Polisi Polda Metro Jaya dan Polisi Militer TNI AL menjaga bersama-sama komplek sekolah tersebut. (Syahrul Yunizar/ Jawa Pos)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Peristiwa pengeboman SMAN 72 Jakarta pada Jumat siang (7/11) menyisakan beberapa pertanyaan dari temuan kepolisian pasca sterilisasi sekolah tersebut. Usai ledakan terjadi, terduga pelaku pengeboman, inisial F, ditemukan dalam keadaan bersimbah darah.

Sebelumnya, F yang juga merupakan siswa kelas XII sekolah tersebut diduga melakukan pengeboman dalam masjid sekolah pada jam salat Jumat, menyebabkan banyak korban luka. Identitas F diketahui oleh sesama siswa, setelah foto temuan tubuh F ditunjukkan oleh petugas kepolisian.

Selain F yang kini menjalani perawatan di rumah sakit, ditemukan pula sebuah ikat pinggang taktis, serta dua pucuk senjata yang diduga sebuah senjata api. Namun setelah pemeriksaan lebih lanjut, ternyata senjata tersebut merupakan airsoft gun, dengan kata lain senjata mainan.

“Senjata mainan, bukan senjata beneran. Setelah kami cek, itu senjata mainan," jelas Wamenko Polkam, Lodewijk F. Paulus yang turut memeriksa lokasi kejadian pada Jumat sore.

Dua senjata mainan tersebut berupa sebuah pistol dan sebuah senapan serbu. Senapan serbu tiruan tersebut ditemukan penuh dengan coretan dengan berbagai slogan dan nama tokoh teroris barat.

Dua diantaranya merupakan pesan intimidasi, yakni “Welcome to Hell” (‘Selamat datang di neraka’) dan “Natural Selection”, yang merujuk pada sub-teori dari Teori Darwin tentang perbedaan kemampuan berbagai mahluk hidup untuk bertahan diri.

Penampakan senjata mainan yang diduga digunakan dalam peristiwa pengeboman SMAN 72 Jakarta (Dok. Istimewa/Instagram)
Penampakan senjata mainan yang diduga digunakan dalam peristiwa pengeboman SMAN 72 Jakarta (Dok. Istimewa/Instagram)

Selain itu, di sisi pegangan senjata bagian depan tertulis angka 1189, yang merupakan tahun awal bermulanya Perang Salib Ketiga, antara kaum kristiani di bawah pimpinan Raja Richard I dari Inggris dan Raja Frederick Barbarossa dari kerajaan Romawi, melawan kaum muslimin Dinasti Ayyubiyah dibawah pimpinan sultan Salahudin Al-Ayyubi.

Dalam perang sepanjang empat tahun tersebut, meskipun pasukan kristiani dapat menekan kedudukan pasukan Ayyubiyah, perang berakhir dengan Perjanjian Jaffa, yang menetapkan kota Yerusalem tetap jadi milik Dinasti Ayyubiyah, namun wilayah yang kini menjadi Israel dan Lebanon jadi milik gabungan Inggris dan Romawi.

Kemudian di sisi depan senjata terdapat tulisan “14 Words” dan “For Agartha”. Menurut  catatan The Guardian dan Complex, “14 Words” merupakan ideologi sepanjang 14 kata yang dicetuskan ekstremis dan teroris barat, David Lane mengenai supremasi kaum kulit putih, secara spesifik merajuk pada keberlangsungan dan keturunan kulit putih.

Sementara itu, Agartha merupakan sebuah mitos mengenai peradaban yang bernama sama yang digagas oleh Louis Jacolliot pada 1873 saat bertugas di India, diyakini terletak di dalam bumi dan diduduki oleh mahluk-mahluk berderajat tinggi. Pun demikian, tidak ada bukti konkrit mengenai adanya peradaban tersebut.

Akhirnya, ada tiga nama teroris barat yang tertulis pada senapan serbu milik F, yakni Brenton Tarrant, Luca Traini dan Alexander Bissonette. Tarrant dan Bissonette melakukan serangan bersenjata dengan motif kebencian agama, sementara Traini melakukan serangan bersenjata dengan motif kebencian antara ras.

Menurut arsip New York Times, Traini melakukan aksinya pada Februari 2018 dengan menembaki enam imigran di kota tempat tinggalnya, Macerata di Italia. Meskipun dirinya juga menunjukkan simbol fasisme di tengah penembakan, Traini berkilah pembunuhan yang dilakukannya merupakan tindakan balasan dari kasus mutilasi yang dilakukan oleh seorang imigran asal Nigeria terhadap sesama warga Macerata, Pamela Mastropietro. Atas perbuatannya, Traini dihukum kurungan 12 tahun penjara.

Setahun kemudian pada Maret 2019, Brendon Tarrant melakukan penembakan terhadap jemaah salat jumat Masjid Al Noor di Christcurch, Selandia Baru yang menewaskan 51 jemaah. Menurut arsip Kepolisian Selandia Baru dan laporan Reuters, Tarrant juga sempat mengincar sebuah masjid lain, namun karena dirinya menyiarkan langsung aksi kekejiannya di media sosial, kepolisian langsung dapat menyergapnya di tengah perjalanan dengan memanfaatkan siaran tersebut.

Kebetulan, sama dengan F, Tarrant juga mencoret-coret senjatanya dengan tulisan “1189” dan nama Luca Traini. Setahun setelah tragedi tersebut, Tarrant dihukum penjara seumur hidup.

Sementara itu menurut arsip Al-Jazeera, Alexandre Bissonette melakukan penembakan terhadap jemaah salat Isya di masjid milik Pusat Kebudayaan Islam Kota Quebec di Kanada pada Januari 2017 silam, dengan total 6 jemaah meninggal dunia. Sedianya dihukum 40 tahun penjara, Alex akhirnya dihukum penjara seumur hidup pada 2022.

Berdasarkan temuan tersebut, serta dugaan jejak media sosial yang dimiliki F, publik naetizen Indonesia menduga F terpapar ideologi radikal barat dan terinspirasi untuk melakukan tindakan ekstrem serupa. Namun kepolisian masih menelusuri motif tindakan nekat F lebih lanjut sambil menunggu F pulih, termasuk kemungkinan adanya pihak eksternal dalam kasus tersebut.

“Untuk motif saat ini memang sedang kami dalami berbagai macam informasi. Tentunya akan kami kumpulkan supaya menjadi satu informasi yang bulat pada saat nanti diinformasikan,” jelas Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo pada Jumat (8/11), sebagaimana dikutip dari Jawa Pos. (edo)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Kebencian Agama #kapolri #kebencian #mitos #sterilisasi #senjata mainan #salahudin #ideologi #senapan serbu #senjata #airsoft gun #SMAN 72 Jakarta #Dinasti Ayyubiyah #Listyo Sigit Prabowo #pengeboman #pistol #kepolisian #ekstremis #Sekolah #SMAN 72 #intimidasi #masjid #teroris #perang salib