RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Bencana di Bojonegoro tak hanya terjadi beberapa waktu terakhir. Mengacu arsip Jawa Pos Radar Bojonegoro, terjadi hujan disertai angin puyuh yang menerjang Kecamatan Ngraho dan Dander pada 22 Oktober 2002. Akibatnya, 46 bangunan rusak berat dan 16 lainnya rusak ringan.
Data dihimpun Jawa Pos Radar Bojonegoro pada 24 Oktober menyebutkan, di Kecamatan Ngraho, hujan dan angin puyuh tersebut memporak-porandakan lima desa. Di antaranya di Desa Tanggungan 18 rumah dan bangunan sekolah dasar (SD) rusak berat serta 16 rumah rusak ringan; di Desa Kalirejo terdapat lima rumah roboh dan enam lainnya rusak rungan; di Desa Nganti ada tiga rumah rusak berat; Desa Pandan dua rumah rusak berat; dan di Desa Blimbinggede satu rumah rusak berat. Sedangkan, di Kecamatan Dander terdata satu rumah rusak berat.
"Data sementara yang sudah masuk, kejadiannya sekitar pukul 17.30 (Selasa, red). Rumah yang rusak, baik berat maupun ringan, sebanyak 46," kata Kasubdin Humas dan Media Muntoro.
Baca Juga: Radar History: Dana Proyek Ronggohadi Dipungli
Rumah-rumah yang rusak berat di Desa Tanggungan, lanjut Muntoro, antara lain milik Wondo, Jami, Siyem, dan Mat Khoiri. Di Desa Kalirejo, antara lain rumah Sumarmi, Tingah, Kisno, dan Sadam. Di Desa Pandan, rumah milik Siyem dan Supardi. Sedangkan di Desa Blimbinggede, rumah milik Kemat.
"Yang di Kalirejo belum diketahui pemiliknya, tapi yang jelas ada empat rumah yang roboh. Lainnya lagi, satu rumah di Desa/Kecamatan Dander milik Latin juga roboh," jelasnya.
Kepala Kantor Kesejahteraan Sosial Pemkab Bojonegoro Mashuri ketika dikonfirmasi mengatakan, hingga petang Rabu (23/10/2002), pihaknya masih menerima data sementara rumah korban yang rusak akibat hujan angin tersebut. "Kami juga belum tahu berapa total kerugian yang diderita para korban. Sampai saat ini, petugas kami masih mendata di lokasi kejadian," katanya.
Mashuri menduga, hujan dan angin puyuh tersebut terjadi akibat penggundulan hutan saat maraknya aksi penjarahan beberapa waktu lalu. "Karena itu, selain harus menerima dengan lapang dada, warga sekitar hutan harus instrospeksi agar kejadian serupa tidak terjadi pada masa mendatang," ujar dia. (yna/msu)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah