Deprian Agus Salim menemukan fosil manusia purba di Bengawan Solo pada 20 Juni 2026 lalu. Kemudian diteliti lebih lanjut tim dari Jawa Timur. Dipastikan struktur anatomi rahang bawah makhluk hidup kelas Mamalia atau Primate.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
PERADABAN panjang di sepanjang Bengawan Solo kembali diperkuat dengan penemuan rahang manusia purba, menjadi bukti jejak kehidupan manusia purba.
Baca Juga: Penemu Fosil di Blora Enggan Menyerahkan ke Pemerintah karena Belum Ada Anggaran Tali Asih
Temuan itu berawal dari langkah sederhana Deprian Agus Salim pada Sabtu (20/6). Saat berada di bantaran Sungai Bengawan Solo di wilayah Kelurahan Jetak.
Ia melihat benda keras menyerupai tulang yang sebagian masih tertanam di sedimen sungai. Setelah diamati lebih saksama, benda tersebut ternyata merupakan fragmen rahang bawah yang diduga kuat berasal dari manusia purba.
Temuan tersebut kemudian diamankan, didokumentasikan, dan dilaporkan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro. Selanjutnya, pendata juga telah melaporkan temuan ini ke Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur. Pada 23 Juli 2026, diutus dua personil ahli untuk melihat langsung temuan ini serta melakukan perekaman data. Tidak berhenti di situ, temuan ini juga telah dilaporkan ke Bidang Cagar Budaya Disbudpar Provinsi Jawa Timur sebagai bahan kajian lebih mendalam.
Baca Juga: Kaya Potensi Fosil Purba dan Cagar Budaya, Pemkab Blora Kaji Usulan Pembangunan Museum
Tim pendata Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) Provinsi Jawa Timur wilayah kerja Bakorwil II Bojonegoro, Achmad Satria Utama menyampaikan, temuan ini sangat bernilai tinggi untuk Kabupaten Bojonegoro.
Khususnya bidang arkeologi, sejarah, dan paleontologi. Fosil rahang bawah (mandibula) ini dipastikan adalah hominin (manusia purba) yang telah lama dicari.
“Dari hasil pemeriksaan fisik, objek dipastikan merupakan struktur anatomi rahang bawah makhluk hidup kelas Mamalia atau Primate, spesifik pada sub-tribe Hominina (Hominin/Manusia Purba),” terangnya.
Tulang itu telah mengalami mineralisasi total sehingga berubah menjadi fosil yang membatu sempurna. Bobotnya jauh lebih berat dibanding tulang biasa, dengan pori-pori yang rapat akibat infiltrasi mineral besi dan mangan dari kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo.
Bentuk anatominya pun masih menyimpan banyak cerita. Bagian depan badan rahang utuh membentuk lengkung huruf U parabolik. Meski kedua cabang rahang telah patah akibat proses setelah kematian, tiga gigi geraham asli masih tertanam kuat di soket alveolus. Permukaan kunyah gigi memperlihatkan tingkat keausan yang tinggi, menandakan fosil tersebut pernah menjadi bagian dari kehidupan yang panjang pada zamannya.
“Terdapat tiga buah gigi geraham asli tertanam di soket alveolus. Gigi menunjukkan tingkat keausan permukaan kunyah (occlusal attrition) yang tinggi,” lanjutnya.
Meski demikian, perjalanan ilmiah fosil ini masih belum selesai. Penelitian lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan identitas pemilik rahang tersebut, apakah berasal dari Homo Erectus atau Homo Sapiens.
Tak hanya rahang manusia purba, lanjut Guru Sejarah SMAN 1 Dander tersebut, di lokasi yang sama penemu juga menemukan sejumlah fosil vertebrata lain. Diantaranya, rahang Bubalus, rahang babi, gigi babi, dan beberapa fosil satwa purba lainnya.
Temuan-temuan itu memperkuat dugaan bahwa bantaran Bengawan Solo masih menyimpan lapisan sejarah kehidupan purba yang belum sepenuhnya terungkap. (*/msu)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah