Turnamen Tarkam Menggerakkan Ekonomi di Pedesaan, Mulai dari Parkir hingga Bayar Pemain

M. Irvan Romadhon • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 10:00 WIB
MENGGERAKKAN EKONOMI: Sepak Bola Putra Bangsa Cup Menggunakan VAR (Video Assistant Referee) untuk menekan perselisihan, tarkam di Desa Talun, Kecamatan Sumberrejo ini menngerakkan ekonomi di pedesaan. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
MENGGERAKKAN EKONOMI: Sepak Bola Putra Bangsa Cup Menggunakan VAR (Video Assistant Referee) untuk menekan perselisihan, tarkam di Desa Talun, Kecamatan Sumberrejo ini menngerakkan ekonomi di pedesaan. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

Turnamen sepak bola antarkampung (tarkam) bukan sekadar hasil pertandingan. Di balik sorak penonton di Lapangan Condromowo, Desa Talun, Kecamatan Sumberrejo menggerakkan perekonomian di desa setempat.

M. IRVAN RAMADHON, Bojonegoro


JAM di layar handphone menunjukkan pukul 15.10, gerombolan pemuda berjersey mulai datang ke Lapangan Condromowo, Desa Talun, Kecamatan Sumberrejo. Para pemuda tersebut menenteng tas dan sepatu bola. Mereka adalah pemain sepak bola yang akan bertanding sore itu.

Para pemain tersebut langsung memakai kaus kaki dan sepatu. Lalu bersegera melakukan pemanasan untuk persiapan sebelum pertandingan dimulai.

Ketika para pemain melakukan pemanasan, masyarakat mulai berdatangan. Mulai dari anak-anak, pemuda-pemudi, maupun orang tua. Bahkan terdapat beberapa keluarga. Masyarakat tersebut ingin melihat pertandingan sepak bola Putra Bangsa Cup.

Baca Juga: Pop Punk Bergema di Halaman Kantor Radar Bojonegoro, Ingin Tunjukkan Band Lokal Sejajar dengan Band Luar Kota

Selain penonton dan pemain, puluhan pedagang turut memadati lapangan. Mulai warga sekitar yang menjual minuman dan kopi, hingga pedagang pentol maupun tahu. Tentu menunjukkan adanya perputaran ekonomi terjadi dari turnamen tarkam yang menggunakan VAR (Video Assistant Referee) tersebut.

Ketua Panitia Putra Bangsa Cup Muhammad Zainuddin mengatakan, Putra Bangsa Cup tidak hanya menjadi ajang kompetisi sepak bola, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar.

Baca Juga: Kisah Kakek Pencari Pasir di Sumurboto: Tak Lagi Bisa Melihat, Bertaruh Nyawa di Sungai

Setiap hari pertandingan, aktivitas jual beli meningkat cukup signifikan. Pedagang makanan, minuman, UMKM, parkir, hingga pelaku usaha kecil lainnya turut merasakan dampak positif.

‘’Kami memang berharap turnamen ini menjadi hiburan masyarakat sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga Desa Talun dan sekitarnya,” ungkapnya.

Zainuddin menjelaskan rerata ada sekitar 40 hingga 60 pedagang yang berjualan setiap sore saat pertandingan berlangsung. Jumlah tersebut bisa bertambah pada laga-laga besar atau babak gugur karena antusiasme penonton biasanya lebih tinggi.

‘’Per pedagang ditarik uang kebersihan Rp 5 ribu,” jelasnya.

Menurut Zainuddin, untuk pertandingan fase grup, penonton berkisar 1.000 hingga 1.500 orang per pertandingan. Sedangkan pada laga-laga yang mempertemukan tim unggulan atau memasuki babak gugur, jumlah penonton dapat meningkat hingga lebih dari 2.000 orang. Antusiasme masyarakat ini menjadi motivasi bagi panitia untuk terus menyajikan turnamen yang tertib, aman, dan berkualitas.

Baca Juga: Mengenal Kelas Jalanan Sombat Sambat, Ajak Warga Mengenal Akar Lokal: Mengusung Tema Lokalogi, Belajar dari Alam dan Lingkungan Sekitar

‘’Penonton hanya ditarik parkir Rp 5 ribu per motor. Namun untuk  baba 16 besar beda lagi, tapi menunggu rapat besar dari Panitia,karang taruna dan perangkat Desa,” ujarnya.

Zainuddin mengaku Putra Bangsa Cup diikuti 27 tim desa dari berbagai wilayah di Bojonegoro. Setiap tim membayar uang pendaftaran Rp 1,2 juta. Kemudian untuk total hadiah nantinya mencapai Rp 20 juta.

Baca Juga: Haniv Azhar, Sportcaster Pertandingan Olahraga Bojonegoro: Dituntut Menguasai Regulasi hingga Profil Pemain

Selain perputaran ekonomi dari parkir, pedagang, dan pendaftaran, perputaran uang juga terjadi ketika tim menyewa atau membayar pemain profesional untuk mempekuat timn. Per pertandingan setiap pemain bisa mendapatkan bayaran berbeda-beda.

Bayu Aji salah satu pemain Liga 4 yang ikut bermain di turnamen tarkam mengatakan, pemain Liga 4 dan 3 rerata mendapatkan bayaran Rp 500 ribu hingga Rp 800 ribu per pertadingan. Sementara pemain dari Liga 2 mendapatkan lebih besar, yaitu Rp 1 juta lebih.

Menurut Aji keberadaan tarkam menguntungkan para pemain. Terlebih bisa menambah pemasukan di saat kompetisi resmi libur. Juga sebagai sarana menjaga kondisi sebelum liga dimulai.

‘’Banyak turnamen tarkam yang digelar di Bojonegoro,” jelasnya.

Aji menambahkan penggunaan VAR di turnamen tarkam bisa mengurangi perselisihan antarpemain maupun penonton. Juga menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk menonton pertandingan. (*/msu)

Editor : Hakam Alghivari
pedesaan Sepak Bola Ekonomi bojonegoro tarkam