RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Setiap pagi selama musim kemarau, Sugiman menuruni tebing anak Sungai Lusi di Desa Sumurboto, Kecamatan Jepon.
Kegiatan ini mungkin biasa jika dilakukan pria usia muda dan tak memiliki keterbatasan. Namun, Sugiman harus bekerja ekstra keras di tengah keterbatasan penglihatan dan fisik.
Di tangannya tergenggam sebatang tongkat untuk meraba jalan. Sementara di pundaknya tergantung cangkul dan ikrak, keranjang anyaman bambu tempat menampung pasir, dan sabuk hitam untuk mengikat pinggangnya agar tak terasa sakit.
Sesampainya di dasar sungai, lelaki kelahiran 1961 itu mulai mencangkul pasir sedikit demi sedikit. Hasil cangkulannya dimasukkan ke dalam ikrak, kemudian diangkat ke bantaran sungai.
Pekerjaan belum selesai. Pasir yang telah terkumpul kembali dipindahkan menggunakan dua tong yang diikat tali, lalu dipikul menuju tepi jalan agar bisa diangkut pembeli.
Seluruh pekerjaan itu dilakukan Sugiman tanpa bisa melihat. Sekitar dua puluh tahun terakhir, penglihatannya hilang. Ia hanya mengandalkan ingatan, pendengaran, serta tongkat yang setia menuntunnya melewati jalan berbatu, undakan licin, hingga dasar sungai.
‘’Sehari 10 pikul sudah bagus,’’ katanya.
Baca Juga: 1.308 WNA Gunakan Jasa KA di Blora
Sugiman sudah menjadi pencari pasir sejak 1988. Kala itu, sungai masih ramai oleh para pengambil pasir. Material itu banyak dibutuhkan untuk pembangunan jalan pada masa program padat karya. Meski harga satu rit hanya sekitar Rp 2.500, hasilnya cukup untuk menghidupi keluarga dan membesarkan ketiga anaknya.
Kini keadaan berubah. Sugiman menjadi satu-satunya pencari pasir yang masih bertahan. Permintaan pasir sungai terus menurun. Satu rit pasir dihargai sekitar Rp 110 ribu hingga Rp 120 ribu, tetapi untuk mengumpulkannya ia membutuhkan waktu tiga hingga empat hari.
Usia yang yang tak lagi muda membuat tenaganya tak lagi sekuat dulu. Namun Sugiman tetap memilih turun ke sungai. Baginya, pekerjaan itu bukan sekadar mencari pasir, melainkan cara mempertahankan hidup di tengah keterbatasan yang telah lama menyelimuti hari-harinya.
‘’Sudah tua, tenaga berkurang,’’ ujarnya pelan. (ozi/ind)
Editor : Hakam Alghivari