Berawal tertarik olahraga dan publik speaking. Haniv Azhar kini menjadi salah satu sportcaster atau komentator olahraga di Bojonegoro. Baik untuk pertandingan antar kampung (tarkam) hingga kompetisi profesional.
M. IRVAN RAMADHON, Bojonegoro
OLAHRAGA kini bukan hanya sebuah kompetisi, sebaliknya sudah bertransformasi menjadi hiburan yang menarik bagi masyarakat. Tentu olahraga yang menghibur tak lepas dari peran komentator. Namun tak sekadar pelapor situasi pertandingan, melainkan penghibur yang menghidupkan drama di lapangan.
Haniv Azhar, salah satu sportcaster di Bojonegoro mengatakan, sebagai komentator olahraga harus lebih banyak kosakata olahraga, riset tentang tim yang bertanding, dan paling penting tahu latar belakang dan riwayat klub dari pemain.
Selain itu, harus faham laws of the game (regulasi pertandingan) yang sering berubah dari tahun ke tahun. Jangan sampai salah memberikan informasi ke pemirsa ketika terjadi pelanggaran atau peraturan yang baru dan berbeda dari sebelumnya.
Pria yang mengawali karir sebagai sportcaster sejak 2018 tersebut menjelaskan, di Bojonegoro masih jarang sportcaster profesional. Tentu yang menguasai laws of the game, berwawasan luas tentang olahraga.
‘’Di sini masih banyak penyiar yang penting ngomong, bukan ngomong yang penting,” ungkapnya dengan nada bercanda.
Haniv sendiri meniti karir sebagai sportcaster sejak 2018 melalui turnamen voli tarkam (antar kampung). Kemudian di Liga 3 melalui live streaming di youtube dan vidio dot com.
‘’Awal mula dulu juga menjadi komentator Liga 3 di vidio dot com waktu pandemi penonton tidak boleh ke stadion, kemudian lanjut di turnamen sepakbola tarkam di Desa Talun, Kecamatan Sumberrejo dan berlanjut sampai saat ini di stadion,” terang alumnus Pondok Modern Gontor tersebut
Guru SMP Ar-Rahmat tersebut tertarik menjadi sportcaster karena suka olahraga dan dunia public speaking. Tentu profesi sportcaster sesuai dengan passion-nya.
Terlebih juga mengantongi Lisensi Nasional kepelatihan Futsal. Sehingga sangat erat hubungannya tentang pengetahun sepakbola, futsal, dan olahraga.
Haniv belajar sportcaster dengan berusaha menguasai olahraga yang ingin dibawakan. Lalu berlatih kemampuan berbicara dengan artikulasi, intonasi, dan tempo bicara. Hingga sering memutar pertandingan bola atau futsal.
‘’Sudah nyaman sebagai sportcaster, sampai tidak terasa 90 menit lebih pertandingan selesai,” ujarnya.
Sebagai sportcaster Haniv bisa mengenal banyak pemain bola profesional, dari idola menjadi teman, hingga media sosial diikuti para pemain centang biru.
Ke depan, pria 32 tahun tersebut memiliki keinginan atau cita-cita bisa membawakan dan mengomentari pertandingan timnas sepak bola. (*/msu)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah