Setelah Fauzia Hasna Nugraha mengasah kemampuannya dengan berbagai kompetisi fashion show dan public speaking, akhirnya berhasil dinobatkan Winner Miss Hijab Cilik Jawa Timur 2026
DEWI SAFITRI, Bojonegoro.
SOROT lampu panggung mengiringi langkah kecil Fauzia Hasna Nugraha. Dengan senyum yang tersembahkan, dan hijab yang membingkai wajah polosnya, Fauzia Hasna Nugraha melangkah penuh percaya diri.
Bukan sekadar memamerkan busana, bocah delapan tahun ini juga membuktikan bahwa keberanian mampu tumbuh, bahkan dari langkah kecil.
Dengan penampilan terbaik yang diusahakan, mahkota Winner Miss Hijab Cilik Jawa Timur 2026 berhasil berlabuh di kepalanya.
‘’Suka kegiatan ini karena untuk mengembangkan bakat dan melatih percaya diri,’’ ujarnya.
Kemenangan bukan akhir perjalanan. Mahkota yang kini menghiasi kepalanya merupakan buah dari proses panjang yang dijalani dengan penuh kesungguhan.
Sebelum berdiri di panggung grand final, siswi kelas 3 SD swasta di Bojonegoro ini lebih dulu mengasah kemampuannya melalui berbagai kompetisi fashion show dan public speaking.
Baca Juga: Mengenal Semi Otomatisasi Sistem Akuatik Bojonegoro: Alatnya Sempat Macet, karena Kepanasan
Deretan kemenanganpun menghiasi perjalanannya, mulai dari Runner Up 2 Puteri Pesona Batik Nusantara Jawa Timur 2026; Juara harapan 2 Fashion Show Muslim Puteri Kebaya Bojonegoro 2026; Juara harapan 3 Competition Fashion Show Muslim Tingkat provinsi 2026; Juara harapan 2 Fashion Competition Imlek Tingkat provinsi 2026; dan berbagai juara kompetisi tingkat kabupaten lainnya.
Pengalaman demi pengalaman itulah yang mengantarkannya lolos menjadi salah satu finalis asal Bojonegoro. Selama sekitar tiga bulan, Fauzia mengikuti rangkaian pra karantina hingga grand final. Hari-harinya dipenuhi pembekalan public speaking, personal branding, catwalk class, koreografi tari, hingga berbagai sesi penilaian, mulai mengaji, wawancara mendalam, pemotretan, unjuk bakat, speech competition, dan tanya jawab bersama dewan juri.
Dari semua tahapan itu, speech competition menjadi bagian yang paling berkesan. Berdiri seorang diri di hadapan dewan juri dan ratusan pasang mata menjadi tantangan yang justru paling ia nikmati. Dalam waktu hanya satu menit, Fauzia menyampaikan advokasi bertajuk Gemas (Gerakan Muslimah Cilik Aman dan Cerdas). Melalui program tersebut, ia mengajak anak-anak perempuan memahami pentingnya menjaga area privasi tubuh, berani berkata tidak, serta tidak takut melapor apabila mengalami tindakan yang mengarah pada kekerasan.
Bagi Fauzia, berhijab bukanlah penghalang untuk meraih prestasi. Sebaliknya, hijab telah menjadi bagian dari kesehariannya sejak kecil sekaligus identitas yang ingin ia banggakan. Ia ingin menunjukkan bahwa anak-anak yang berhijab tetap mampu tampil percaya diri, berkompetisi, dan berprestasi di berbagai bidang.
Ajang itu juga menghadiahkan pengalaman yang tak ternilai. Fauzia bertemu teman-teman dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Timur dengan beragam bakat. Ada yang piawai menari, menyanyi, bercerita, memainkan pencak silat, hingga membawakan geguritan. Dari mereka, ia belajar bahwa setiap anak memiliki keistimewaan yang layak diapresiasi.
Di balik keberhasilannya, ada doa dan dukungan yang tak pernah putus dari ayah, bunda, keluarga, serta para ustaz dan ustazah di sekolahnya. Semangat merekalah yang membuat langkah kecil Fauzia terus melaju hingga mampu membawa pulang gelar juara.
Meski telah menorehkan sederet prestasi, termasuk menjadi finalis termuda dalam ajang tersebut, Fauzia belum ingin berhenti bermimpi. Kelak, ia bercita-cita menjadi seorang master of ceremony atau news anchor profesional. Sebab, baginya, setiap panggung bukan hanya tempat menerima tepuk tangan, melainkan ruang untuk menyampaikan inspirasi kepada lebih banyak orang. (*/msu)
Editor : Hakam Alghivari