Banyak tugas sekolah tak menjadi halangan pelajar terus berkarya. Buktinya, Cakrabuana Syamsuddin Khatulistiwa berhasil menerbitkan buku meski masih duduk di bangku madrasah tsanawiyah (MTs).
YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro
SUARA tepuk tangan memenuhi ruangan saat Cakrabuana Syamsuddin Khatulistiwa melangkah ke depan para peserta bedah buku pada 28 Mei lalu. Wajah-wajah yang semula serius seketika berubah cerah ketika remaja itu membuka pemaparannya dengan sebuah pantun sederhana.
"Pergi ke pasar membeli jamu,
pulangnya singgah membeli kurma.
Kalau ingin jadi orang maju,
jangan cuma semangat pas lihat quotes saja."
Tawa langsung pecah. Suasana yang awalnya formal berubah hangat. Namun, di balik candaan itu, tersimpan pesan yang dalam.
"Saya percaya kalau di ruangan ini semua ingin sukses. Semua ingin membahagiakan orang tua. Tapi tidak semua orang siap bangun pagi," ujarnya.
Baca Juga: Ida Fitria Rahmawati, Duta Persada Nusantara Batch 3: Bermimpi Menjadi Perempuan Ispiratif
Kalimat itu membuat peserta terdiam sejenak. Cakra lalu mengajak mereka melihat kembali makna kesuksesan yang selama ini sering dipahami secara instan.
Menurut pelajar MTs Sunan Drajat Kedungsantren tersebut, hampir setiap orang memiliki keinginan untuk berhasil. Namun, tidak semua orang siap menjalani proses yang mengantarkan pada keberhasilan itu. Banyak yang ingin menjadi juara, tetapi enggan berlatih. Banyak yang ingin sukses, tetapi takut menghadapi kegagalan.
Ia kemudian menyinggung fenomena yang begitu dekat dengan kehidupan generasi muda saat ini. Media sosial dipenuhi berbagai konten motivasi tentang disiplin, produktivitas, dan kesuksesan. Video-video itu mampu membangkitkan semangat dalam hitungan detik. Sayangnya, semangat tersebut kerap menguap ketika berhadapan dengan kenyataan.
"Manusia itu unik. Lihat motivasi di TikTok ingin bangun pagi, tapi besoknya tidur lagi," katanya sambil tersenyum. Gelak tawa kembali memenuhi ruangan.
Dari kegelisahan itulah lahir buku Sang Juara. Bagi Cakra, buku tersebut bukan sekadar membahas kemenangan atau prestasi. Lebih dari itu, buku tersebut berbicara tentang perjuangan, pola pikir, kedisiplinan, mentalitas, dan upaya meningkatkan kualitas diri.
"Siapa juara sejati itu?" tanyanya kepada para peserta.
Ia lalu menjelaskan bahwa juara bukan hanya mereka yang membawa pulang piala atau piagam penghargaan. Juara sejati adalah mereka yang tetap bangkit setelah gagal, tetap melangkah ketika lelah, dan tetap berbuat baik meski tidak mendapatkan pujian.
Untuk menggambarkan sosok pejuang sejati, Cakra mengambil teladan dari Rasulullah SAW. Menurutnya, perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW dipenuhi berbagai ujian sejak usia muda. Menjadi yatim, menghadapi hinaan, dilempari batu, hingga berbagai perlakuan tidak menyenangkan. Namun, semua itu dihadapi dengan kesabaran dan keteguhan hati.
"Beliau mengajarkan bahwa kemenangan terbesar bukan melawan musuh, tetapi melawan ego dan hawa nafsu sendiri," tuturnya.
Karena itu, lanjutnya, seorang juara bukanlah orang yang hidupnya selalu mudah. Justru mereka adalah orang-orang yang tetap kuat ketika diuji.
Dalam paparannya, Cakra juga menjelaskan dua pola pikir yang menentukan perkembangan seseorang. Pertama, fixed mindset, yaitu pola pikir yang menganggap kemampuan seseorang sudah ditentukan sejak lahir sehingga mudah menyerah ketika mengalami kegagalan. Kedua, growth mindset, yakni keyakinan bahwa setiap orang dapat berkembang melalui proses belajar dan kerja keras.
"Kalau hari ini gagal, bukan berarti masa depan juga gagal," katanya.
Ia kemudian mengisahkan sejumlah tokoh dunia yang pernah mengalami penolakan dan kegagalan sebelum akhirnya mencapai kesuksesan. Baginya, kegagalan bukan akhir dari perjalanan, melainkan guru terbaik yang membantu seseorang bertumbuh.
"Gagal itu untuk mendewasakan, bukan untuk menghancurkan," tegasnya.
Pesan lain yang terus ia tekankan adalah pentingnya adab dan kerendahan hati. Menurutnya, pertumbuhan tidak akan terjadi jika seseorang terus bertahan di zona nyaman. Karena itu, generasi muda tidak boleh takut menjadi perintis dan pembuka jalan.
Kepada para santri yang hadir, ia berpesan agar terus belajar dan mengembangkan diri. "Teruslah bertumbuh," pesannya.
Menariknya, perjalanan lahirnya buku Sang Juara justru bermula dari sebuah peristiwa yang tidak pernah direncanakannya.
Saat sesi diskusi, Cakra mengungkapkan bahwa dirinya sempat terserang gondongan dan harus menjalani masa pemulihan di rumah selama sekitar 15 hari. Lima hari pertama ia habiskan tanpa aktivitas berarti.
Melihat kondisi tersebut, sang ayah mulai memberikan tantangan. "Ayah bilang, di rumah tidur terus tidak produktif," kenangnya.
Dari kalimat sederhana itulah ide menulis buku muncul. Sang ayah meminjamkan laptop dan mendampinginya selama proses penulisan. Tidak hanya itu, kakaknya yang saat itu juga sedang menulis buku di bidang engineering turut memberikan arahan.
"Dua orang yang paling banyak mendampingi saya adalah ayah dan mas," ujarnya.
Dukungan keluarga itulah yang kemudian menjadi fondasi lahirnya karya pertamanya.
Siapa sangka, masa isolasi karena sakit yang semula terasa membosankan justru menjadi titik awal perjalanan baru. Dari kamar tempat ia beristirahat, lahir sebuah buku yang kini menginspirasi banyak anak muda untuk berani bermimpi, berani berproses, dan tidak takut gagal. (yna/zim)
Editor : Yuan Edo Ramadhana