Usia tak menghalangi Suharsono, guru Bahasa Indonesia yang terus berkarya lewat tulisan. Di umur 50 tahun ini, ia masih menerbitkan buku-buku yang bisa mendongkrak literasi masyarakat.
YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro
PENA dan selembar kertas tertata rapi di atas meja. Benda-benda sederhana itu mungkin terlihat biasa bagi siapa pun yang melihatnya. Namun, bagi Suharsono, pena bukan sekadar alat tulis. Dari ujung pena itu, puluhan puisi, cerpen, hingga buku lahir dan menemukan jalannya sendiri menuju pembaca.
Pagi itu seperti hari-hari lain yang dilaluinya. Guru Bahasa Indonesia di MAN 1 Lamongan tersebut bersiap mengajar para siswa. Menjelaskan materi, berdiskusi, lalu menuntaskan tugas sebagai pendidik hingga sore hari. Di sela rutinitas itu, ada dunia lain yang selalu menemaninya: dunia kata-kata.
Bagi pria berusia 50 tahun tersebut, mengajar Bahasa Indonesia bukan hanya soal menyampaikan teori atau mengajarkan kaidah bahasa. Ada ruang yang lebih luas dari itu, yakni menanamkan kebiasaan berkarya dan meninggalkan jejak melalui tulisan.
Saat ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro, langit tampak mendung menggantung. Namun, raut wajah Suharsono justru terlihat penuh semangat saat mengisahkan awal perjalanannya di dunia literasi.
“Perjalanan saya menulis berawal dari kesukaan membaca kolom budaya dan puisi di Radar Bojonegoro dan Jawa Pos Surabaya yang ada di perpustakaan MAN 1 Lamongan,” tuturnya.
Dari kebiasaan membaca itu, perlahan muncul keberanian untuk mencoba menulis. Ia masih mengingat betul salah satu momen penting dalam hidupnya. Sekitar 2015 lalu, sajak pertama yang dikirimkannya akhirnya dimuat di surat kabar.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya satu karya yang terbit. Namun bagi Suharsono, peristiwa tersebut menjadi pintu pembuka perjalanan panjang yang terus berlanjut hingga sekarang.
Sejak saat itu, ia semakin tekun menulis. Puisi demi puisi dan cerpen terus lahir dari tangannya. Hingga kini, hampir 28 judul cerpen karyanya telah menghiasi kolom budaya Radar Bojonegoro.
Tak berhenti di situ, langkah literasinya semakin panjang. Ia mulai menulis buku antologi puisi, cerpen tunggal, hingga mengikuti berbagai ajang penulisan tingkat nasional.
“Terakhir saya dinobatkan sebagai Penulis Terpilih Rekor MURI Cerpen Antikorupsi bersama Gol A Gong. Saya juga membuat buku antologi puisi dan pentigraf bersama pelajar MAN 1 Lamongan,” ungkapnya.
Jejak literasi itu membuat namanya tak hanya dikenal di lingkungan sekolah, tetapi juga di ruang publik yang lebih luas. Berbagai prestasi pun berhasil diraih.
Di antaranya Juara I Lomba Penulisan Puisi tingkat Kabupaten PGRI Lamongan 2019, Juara VII Lomba Penulisan Puisi Nasional dari 1.357 peserta pada 2024, Juara I Guru Madrasah Inspiratif 2025 jenjang MA Lamongan, hingga Penulis Terpilih Nasional Festival Cerpen Indonesia 2025 di Bandar Lampung.
Selain itu, ia juga tercatat sebagai penulis terpilih di berbagai lomba sastra nasional serta aktif menjadi Koordinator Gerakan Literasi Madrasah (Gelem) MAN 1 Lamongan.
Meski deretan prestasi telah dikantongi, Suharsono tak ingin berhenti pada pencapaian pribadi. Ada tujuan yang lebih besar yang ingin diwujudkan: menularkan semangat literasi kepada para siswa dan lingkungan sekitarnya.
“Semoga tetap konsisten di dunia literasi ini. Semoga bisa menumbuhkan inspirasi bagi pelajar, rekan guru, dan masyarakat luas,” harapnya.
Di tengah derasnya arus media sosial dan perubahan zaman, Suharsono memilih tetap setia pada kata-kata. Dari ruang kelas sederhana, ia membuktikan bahwa sebuah pena bisa membawa seseorang melangkah jauh, bahkan melampaui batas ruang dan waktu. (yna/zim)
Editor : Yuan Edo Ramadhana