Gaya pacaran pelajar di Tuban mendapat komentar psikolog yang juga guru bimbingan konseling (BK) di SMAN 1 Tuban, Titik Ekawati. Dia menyebut, tren tersebut muncul karena memang ada contohnya.
Titik lalu menunjukkan sinetron-sinetron remaja yang kini banyak ditayangkan di berbagai stasiun TV swasta. alam sinetron itu, kata dia, setting-nya memang sekolah. Namun, yang ditonjolkan sebenarnya bukan prestasi siswa, tetapi lebih kepada konflik percintaan, termasuk rebutan pacar ataupun hal-hal lain yang terkadang mengarah ke hal-hal yang berbau seks.
Titik menambahkan, sebenarnya ada banyak faktor yang menyebabkan para pelajar seperti itu. Dia mencontohkan, pada tahun 1980-an, film di layar lebar banyak mengambil setting sekolah, termasuk adegan-adegan berpacaran yang akhirnya membuat si cewek hamil.
Imbas dari film itu, kata dia, saat itu di sekolah-sekolah kelihatannya juga mengalami tren banyak siswanya yang hamil. Tren yang ada di sinetron tampaknya juga masuk dalam kehidupan nyata, tak terkecuali para pelajar di Tuban.
Dia mengatakan,pada awal remaja perkembangan psikis anak memang cukup pesat. Dorongan serba ingin tahu, terutama hal-hal yang berkaitan dengan persoalan seks juga cukup besar.
Inilah yang terkadang mendorong remaja untuk melakukan hal-hal yang sebenar nya sangat tabu, termasuk hubungan intim. "Jangankan yang baru pacaran, yang sudah berpengalaman pun akan tergelincir ke arah sana. Pada awal-awal remaja, dorongan serba ingin tahu memang sangat besar. Nah, karena ingin tahu, akhirnya mereka mencoba," ujar Titik.
Baca Juga: Radar History: Saat Menteri Kehutanan Sebut TNI Terlibat Kasus Pembalakan Liar pada 2005 Silam
Menyikapi hasil penelitian salah satu pelajar MA Ash-Shomadiyah yang menyebutkan bahwa sekitar 14,32 persen pelajar yang menjadi responden mengaku pernah melakukan hubungan intim dengan pacarnya, dia mengatakan, bahwa hal tersebut disebabkan awalnya karena besarnya dorongan keingintahuan mereka terhadap hal-hal yang berbau seks.
"Kalau sampai ke arah situ, dari sisi psikologis memang karena dorongan emosi yang cukup kuat, sehingga mereka nekat me lakukan hal-hal seperti itu. Tapi, mereka tidak pernah berpikir akibatnya," kata jebolan pascasarjana psikologi Untag Surabaya itu.
Jika hasil penelitian menyebutkan sekitar 14,23 persen respon den pernah berhubungan intim, kata Titik kenyataannya bisa lebih besar dari jumlah tersebut. "Kalau hasil penelitiannya disebutkan sekitar 14,23 persen, maka kenyataannya bisa dua kali lipat dari itu," ungkapnya.
Sebab, lanjut dia, masalah seks bagi masyarakat kita, tak kecuali para responden, merupa kan hal yang tabu. Karena itu, tidak banyak yang berani mengungkapkan apa adanya. Dengan demikian, sangat mungkin masih banyak responden yang sebenarnya pernah melakukan tidak berani mengakuinya.
Dia kemudian mengibaratkan masalah seks itu dengan virus HIV/AIDS. Orang yang terkena HIV/AIDS, kata dia, jarang sekali yang mau mengaku. Karena itu, jumlah penderita HIV/AIDS tentu lebih banyak dibanding kan data yang ada.
Titik mengakui, pendidikan seks memang cukup penting diberikan kepada para pelajar, untuk membentengi mereka agar tidak terpancing melakukan hal-hal yang mengarah kepada seks bebas.
Sayangnya, kata dia, sebagian guru terkadang masih merasa tabu untuk memberikan pendidikan seks kepada siswanya. Padahal, lanjut dia, mereka semestinya harus lebih mendapatkan perhatian dan memperoleh pemahaman yang cukup mengenai pendidikan seks. "Cerita anak anak SMP malah lebih ngeri di bandingkan SMA," katanya.
Terkait masalah seks pelajar di Tuban, Titik juga menyampaikan informasi yang cukup mengejutkan. Menurut informasi yang diperolehnya, salah satu apotek di Tuban setiap malam Minggu hampir selalu kehabisan stok kondom. Ironisnya, kata dia, sebagian besar pembelinya remaja putri usia sekolah
"Inilah fenomena yang sekarang terjadi di sini. Terus terang, awalnya saya juga kaget mendapat informasi seperti itu," katanya dengan nada datar. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana