Bencana banjir langganan di bantaran Sungai Bengawan Solo buat warga cemas. Seperti pada 21 tahun silam. Meski mulai surut, banjir pada April 2005 itu tetap membuat sejumlah warga was-was akan datangnya banjir yang lebih besar. Sebab, ketinggian air Bengawan Solo masih menunjukkan status siaga I.
Dibandingkan beberapa hari lalu saat itu, air bengawan memang sudah surut dan hanya sebagian saja yang masih menggenangi rumah warga. Namun, sejumlah sawah yang kebanyakan sudah ada tanamannya masih terendam air.
Di Desa Tulungagung ada tiga dusun yang terendam banjir. Yakni, Dusun Tulungagung, Rendeng, dan Sudah. Menurut Kepala Desa Tulungagung Kasmidi, ketika banjir air menggenangi jalan, sawah, pekarangan, dan beberapa rumah warga desanya.
''Tanaman palawija yang ada seperti kacang hijau, kacang tanah, cabe, jagung, dan padi seluas sekitar 30 hektare (ha) hampir mati karena terendam air. Tanaman itu baru ditanam sekitar 20 hingga 25 hari," jelasnya.
Baca Juga: Radar History: Ketika Warga Blora Protes Proyek Pertamina Akibat Polusi Suara pada 2005 Silam
Sementara itu, di Desa Kemiri ada tiga dusun yang tergenangi air. Yakni, Dusun Kemiri, Semanding, dan Gemolong. Menurut Kepala Desa Kemiri Mohammad Khumaidi, banjir kali ini memang lebih besar dibandingkan setahun sebelumnya. Dari 250 hektare lahan sawah di desanya ada sekitar ada 213 ha lahan sawah yang tergenang.
''Dan sebagian sudah tidak mungkin lagi bisa tumbuh karena umumnya padi yang tergenang itu dalam proses pengisian bulir. Tapi, sebagian masih memungkinkan untuk tumbuh lagi," jelasnya.
Camat Malo Madirin mengakui bahwa saat banjir air sempat masuk rumah warga. ''Tapi itu sementara. Kalau sudah meluber, biasanya dari sudetan Sedayu Lawas, Lamongan dibuka sehingga aliran menjadi lancar dan tidak banjir lagi," katanya.
Sementara itu, daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo Lamongan dinyatakan siaga II. Sebab, air sungai terpanjang di Jawa tersebut meluap cukup besar. Luapan disebabkan adanya air kiriman dari wilayah hulu sungai yang terus diguyur hujan deras.
Menurut Kepala Dinas PU Pengairan Lamongan Heru Sanjoto, kenaikan elevasi (ketinggian air) Bengawan Solo mencapai 7,37 shpt (satuan elevasi air). Kenaikan elevasi itu mulai terjadi sekitar pukul 11.00.
Heru menambahkan, peningkatan elevasi tersebut sebenarnya mulai terjadi pukul 06.00. Saat itu elevasi meningkat dari kondisi normal 6,50 shpt menjadi 6,84 shpt. Heru menjelaskan, DAS Bengawan Solo dinyatakan berstatus siaga I bila elevasi capai 7,00 shpt. Sedangkan siaga II, lanjut dia, bila elevasi 7,01 sampai 7,50 shpt, dan siaga III elevasi mencapai 7.50 shpt ke atas.
Akibat peningkatan elevasi hingga siaga II, kata dia, tanggul Bengawan Solo di dua tempat longsor. Masing-masing Desa Melik, Kecamatan Kalitengah, dan di Kecamatan Karanggeneng.
''Tim satkorlak PB bersama Proyek Bengawan Solo Hilir telah menuju lokasi tanggul longsor untuk melakukan perbaikan agar tanggul tidak sampai jebol. Kalau jebol, jelas akan terjadi banjir," terangnya. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana