Dari gawai sederhana, Murjito menjadi fotografer yang dipercaya. Bukan hanya soal warna, komposisi, atau pencahayaan, tetapi juga tentang proses panjang, sebuah keterbatasan perlahan berubah menjadi keahlian.
HAKAM ALGHIVARI, Bojonegoro
MURJITO memulai perjalanannya di dunia fotografi pada 2015. Saat itu, baru saja berhenti dari pekerjaannya sebagai buruh pabrik dan tengah mencari arah baru.
Di sela waktu luang, mencoba mencari peluang melalui media sosial, hingga tanpa sengaja tertarik pada karya fotografi yang dipadukan dengan tipografi.
Dari rasa penasaran itu, mulai belajar secara otodidak. Berbekal gawai dan peralatan sederhana, sampai bergabung komunitas daring untuk memahami teknik dasar fotografi. Mulai dari komposisi hingga bagaimana menghadirkan cerita dalam sebuah gambar.
“Belajar tentang memotret yang tidak asal memotret, foto yang mempunyai cerita di dalamnya,” tuturnya.
Berbagai genre sempat dicoba, mulai dari makro, pemandangan, hingga street photography. Namun, fotografi makanan menjadi titik yang paling membuatnya bertahan. Baginya, ada ruang eksplorasi yang luas dalam menata visual makanan agar terlihat menarik.
Di fase awal, keterbatasan alat menjadi tantangan terbesar, pria 35 tahun itu harus memutar otak agar tetap bisa menghasilkan foto sesuai konsep klien. “Akhirnya foto di kolong meja, agar blocking cahaya berpusat pada makanannya,” ceritanya.
Dari situ, perlahan kepercayaan mulai datang, terutama dari pelaku UMKM yang membutuhkan visual produk untuk pemasaran. Dari sekadar membantu teman, jasanya kini semakin dikenal. Peralatan pun berkembang, dari kamera ponsel hingga menggunakan perangkat fotografi profesional.
Meski begitu, dinamika di lapangan tetap menjadi bagian tak terpisahkan. Membawa berbagai properti dengan motor hingga harus mengatur ruang yang terbatas menjadi tantangan tersendiri.
Namun, di balik semua itu, ada kepuasan sederhana yang selalu ditunggu setelah sesi pemotretan selesai. “Mencicipi makanan yang telah difoto,” katanya sambil tertawa.
Lebih dari sekadar menghasilkan gambar yang menarik, Jito sapaannya, melihat fotografi sebagai cara untuk ikut tumbuh bersama pelaku usaha kuliner. Ia berharap karyanya bisa membantu meningkatkan daya tarik produk sekaligus mendongkrak penjualan.
Perjalanan dari gawai sederhana hingga dipercaya berbagai klien menjadi bukti bahwa proses belajar yang konsisten dapat membuka jalan. Bagi Jito, setiap foto bukan hanya hasil karya, tetapi juga bagian dari perjalanan yang terus ia kembangkan. (kam/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana