Bagi Muhammad Ghaly Afkar Riyadi panggung bukan soal menang atau kalah, tetapi tentang menjaga ingatan, ketenangan, dan keyakinan di saat bersamaan.
HAKAM ALGHIVARI, Bojonegoro
Muhammad Ghaly Afkar Riyadi, merasakan betul momen mendebarkan yang sulit dilupakan. Dalam ajang Festival Tahfidz Quran yang dihelat Jawa Pos Radar Bojonegoro, ia mengaku sempat tidak percaya diri saat harus melanjutkan bacaan surat Yasin.
“Tidak menyangka karena ada kesalahan waktu menjawab surat Yasin, tapi Alhamdulillah atas izin Allah bisa mendapatkan walau hanya juara favorit,” ujarnya.
Meski sempat terkendala jawaban, pengalaman itu tetap ia kenang sebagai sesuatu yang menyenangkan bahkan pelajaran berharga. Rasa syukur tidak henti ia kumandangkan ketika namanya dibacakan sebagai juara favorit.
Ketika di atas panggung, perasaan gugup sempat menguasainya. Namun, tidak sampai membuatnya gentar menghadapi cecaran para juri. “Tidak takut, tapi ada rasa deg-degan,” katanya.
Ghaly sendiri bukanlah peserta baru. Sejak kelas 2, ia sudah mengikuti berbagai lomba tahfiz. Dirinya pernah meraih juara 1 kategori A, lalu juara 3 kategori B saat kelas 4 pada ajang yang juga digelar Radar Bojonegoro.
Konsistensi itu telah dibangun dari kebiasaan menghafal sejak usia dini, yakni empat tahun.
Saat ini, hafalannya telah mendekati 13 juz. Untuk persiapan menghadapi kompetisi, ia rutin melakukan murojaah, khususnya pada juz 30 dan surat Al Waqiah, serta melanjutkan hafalan surat Yasin yang sebelumnya belum tuntas.
Capaian itu tak lepas dari peran besar keluarga. Orang tua mendampingi proses murojaah setiap pagi sebelum sekolah dan setelah magrib. Ia juga mengikuti pembinaan di griya tahfiz serta kelas tahsin secara daring.
Bagi siswa 12 tahun itu, menghafal Alquran bukan hanya target pribadi, tetapi juga harapan yang ingin ia wujudkan untuk kedua orang tuanya di surga nanti. “Ingin memakaikan mahkota kepada kedua orang tua,” doanya.
Hingga kini, siswa yang sekarang duduk di kelas 6 SD itu terus berusaha menjaga hafalan dengan istiqomah. Sebab baginya, tantangan terbesar bukan saat kompetisi, melainkan bagaimana tetap konsisten mengulang dan menjaga setiap ayat yang telah dihafal. (kam/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana