Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Partini, Perajin Batik di Desa Jono, Kecamatan Temayang: Menggerakkan Ekonomi Ibu Rumah Tangga

Hakam Alghivari • Jumat, 27 Maret 2026 | 13:45 WIB
MENGGERAKKAN EKONOMI: Partini, Perajin Batik di Desa Jono, Kecamatan Temayang menggerakkan ekonomi ibu rumah tangga. (HAKAM ALGHIFARI/RADAR BOJONEGORO)
MENGGERAKKAN EKONOMI: Partini, Perajin Batik di Desa Jono, Kecamatan Temayang menggerakkan ekonomi ibu rumah tangga. (HAKAM ALGHIFARI/RADAR BOJONEGORO)

 

PARTINI, akrab disapa Bu Tinuk, merintis batik sejak 2011, saat bersama 13 warga lain mengikuti pelatihan hingga magang, lalu ikut merintis motif khas Bojonegoro.


HAKAM ALGHIVARI, Bojonegoro


Di balik selembar kain batik, ada waktu yang menetes pelan, ada tangan-tangan yang sabar menorehkan cerita. Bagi sebagian orang, batik mungkin hanya soal motif dan warna. Bagi para perajinnya adalah perjalanan panjang tentang belajar, bertahan, dan menerima.

Dari usaha yang dirintis Partini, kini dikenal sebagai Manda Batik, telah merekrut 12 karyawan dengan rentang usia yang beragam. Hingga kini, produksi terus berjalan, namun ritme pesanan memang tidak selalu stabil. “Namanya usaha kadang ada pasang surutnya,” ujarnya.

Dalam perjalanannya, perempuan 43 tahun itu punya bumbu cerita tersendiri. Pernah menerima pesanan besar, yang membuat timnya kewalahan. Bersama 19 perajin lain dalam Asosiasi Perajin Batik Bojonegoro (APBB), mengerjakan pesanan sekitar 15 ribu sarung batik dalam kurun waktu satu bulan.

“Pernah dapat pesanan sekitar 15 ribu potong, itu dikerjakan bareng-bareng selama satu bulan,” kenangnya.

Baca Juga: Anna Nurhayati, Perajin Emping Gerut Asal Kecamatan Ngasem: Awalnya Dianggap Umbi Liar untuk Pakan Ternak

Pesanan dalam jumlah besar itu bukan tanpa tantangan, waktu yang cukup mepet dan masih melayani orderan lain sempat membuat Bu Tinuk dan kolega kelabakan. Meski demikian, pesanan tetap dapat diselesaikan.

Tantangan memang sudah menjadi hal wajar bagi ibu dua anak tersebut. Pernah dituntut menjaga konsistensi kualitas pesanan batik, termasuk saat harus menyesuaikan warna sesuai permintaan konsumen, dengan racikan warna yang persis dan presisi.

“Kita diminta buat warna seperti yang diinginkan konsumen dan harus sama, jadi harus benar-benar fokus mencampur warna dari resep yang kita punya,” terangnya.

Meski tidak selalu mendapat pesanan besar, keberlanjutan usaha tetap dijaga. Salah satunya melalui pesanan rutin, termasuk kebutuhan batik untuk aparatur sipil negara (ASN) Bojonegoro yang setiap tahun berganti motif.

Bagi perempuan asal Desa Jono, Kecamatan Temayang itu, membatik kini bukan sekedar aktivitas sambilan. Dari yang awalnya ibu rumah tangga, ia bisa ikut membantu perekonomian keluarga.

Pasang surut pesanan memang tak terhindarkan, yang bertahan bukan hanya usaha, tetapi juga ketekunan. Sebab bagi Bu Tinuk, batik bukan hanya kain. Melainkan jejak kesabaran yang terus dirawat dari waktu ke waktu. (kam/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Pesanan #asn #Perajin Batik #bojonegoeo #temayang #Pelatihan #batik #motif khas