Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Rumah Berbentuk Klenteng Berkalimat Syahadat di Tengah Kota Blora: Diperkirakan Sudah Berdiri Sekitar Dua Abad

Rahul Oscarra Duta • Kamis, 26 Maret 2026 | 08:45 WIB

RAHUL OSCARRA DUTA/RDR.BJN
RAHUL OSCARRA DUTA/RDR.BJN

 

Di tengah riuh lalu lintas Jalan Arumdalu, Kelurahan Mlangsen, Kecamatan Blora, sebuah bangunan tua berdiri tenang. Dari luar, bentuknya mencolok. Atapnya melengkung dengan ornamen khas Tiongkok. Lampion merah menggantung di beberapa sudut. Sekilas, bangunan itu tampak seperti klenteng kecil yang terselip di jantung kota.


RAHUL OSCARRA DUTA, BLORA, Radar Bojonegoro


SIAPAPUN yang melangkah mendekat akan menemukan kejutan kecil di atas pintu utamanya. Di sana terukir kalimat berhuruf Arab, Asyhadu An Laa Ilaaha Illallaah, Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasuulullaah. Kalimat syahadat itu seakan menjadi penanda bahwa rumah tua tersebut menyimpan kisah yang berbeda.

Begitu masuk ke dalam, nuansa Tiongkok semakin terasa. Ukiran kayu tua menghiasi bagian rumah. Lampion masih terpasang di beberapa titik. Tiang-tiang kayu besar yang menjadi penyangga utama bangunan tampak menghitam dimakan usia, tetapi tetap kokoh berdiri.

Rumah itu diperkirakan telah berdiri sekitar dua abad lalu. Meski usianya ratusan tahun, kondisi bangunan masih terawat. Atap dan struktur kayunya masih kuat menopang rumah yang menjadi saksi perjalanan waktu di Kota Blora.

Pemilik rumah saat ini, Haji Tieksun merupakan keturunan Tionghoa yang telah memeluk Islam. Ia bercerita, rumah tersebut sejak dulu memang dimiliki oleh keluarga Tionghoa Muslim.

‘’Dari dulu rumah ini milik orang Cina Muslim. Pemilik yang sekarang juga Cina Muslim,” ujarnya.

Menurutnya, beberapa waktu lalu rumah tersebut sempat dilirik untuk dijadikan bangunan cagar budaya. Namun, ia memilih tetap merawatnya sendiri.

Tieksun memiliki alasan sederhana. Ia ingin rumah itu tetap hidup, bukan sekadar bangunan yang dibekukan oleh waktu. ‘’Pernah diminta pemerintah untuk dijadikan cagar budaya, tapi saya tidak mengizinkan. Saya ingin merawatnya sendiri dan digunakan untuk kepentingan umum,” katanya.

Kini rumah tua itu memang tidak hanya menjadi tempat tinggal. Di beberapa kesempatan, bangunan tersebut digunakan untuk pertemuan organisasi hingga kegiatan sosial masyarakat.

Bagi warga sekitar, rumah itu bukan sekadar bangunan kuno. Ia menjadi penanda kecil tentang jejak sejarah yang jarang disadari. Tentang pertemuan budaya Tiongkok dan Islam yang hidup berdampingan dalam satu ruang.

Lurah Mlangsen Evi Kartikasari mengaku setiap kali melihat bangunan tersebut selalu merasa takjub. Menurutnya, rumah itu menjadi simbol nyata kerukunan budaya dan agama di Blora.

‘’Bangunan ini unik. Ornamen-ornamennya identik dengan budaya Tionghoa, tapi pemiliknya seorang Muslim. Ini menunjukkan kerukunan yang sudah lama ada di sini,” ujarnya. (hul/ind)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Tionghoa Muslim #Mlangsen #tionghoa #arab #muslim #syahadat #rumah #islam #Cagar Budaya #tiongkok #cina #lampion #blora