Hamda Shakia Anwar menjelma kekuatan yang menggetarkan saat di arena pertandingan. Dari disiplin taekwondo, merawat keberanian, ketahanan mental, dan karakter yang teguh sejak kecil.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
TUBUH mungil dan raut wajah yang kerap terlihat pendiam, tersimpan nyala api yang tak mudah dipadamkan. Hamda Shakia Anwar adalah potret kontras yang menawan. Di rumah dan sekolah, siswi kelas VI SD Muhammadiyah 2 Bojonegoro itu dikenal introvert, kalem, bahkan dianggap rapuh. Namun begitu kaki menapak matras dan peluit pertandingan ditiup, Kia menjelma singa arena yang tak jarang mengalahkan lawan. Kuat, fokus, dan tanpa ragu menebar tendangan penentu.
Kecintaan Kia pada taekwondo tumbuh sejak usia 8 tahun, tepatnya saat duduk di bangku kelas II SD. Darah atlet mengalir deras dalam dirinya. Sang ayah adalah atlet, begitu pula adiknya yang menekuni cabang bela diri yang sama. Lingkungan keluarga itulah yang menjadi bara awal, menyulut semangatnya untuk mengikuti jejak sang ayah. Berlatih, jatuh, bangkit, lalu bertanding lagi dengan keyakinan yang kian matang.
“Bermula dari ayah seorang atlet juga semenjak masih kecil. Sehingga, ingin mengikuti jejak ayah. Adek juga seorang atlet, jadi makin semangat latihannya,” kata perempuan 12 tahun tersebut.
Bagi Kia, taekwondo bukan sekadar olahraga. Melainkan, sekolah kehidupan. Di sana ada disiplin, ketahanan mental, manajemen stres, hingga pembentukan karakter. Lebih dari itu, bela diri menjadi ruang aman yang memberdayakan perempuan. Kuat secara fisik, teguh secara psikologis. Setiap latihan mengajarkan keberanian, setiap pertandingan melatih keikhlasan menerima menang dan kalah.
Sejak kelas III SD, Kia mulai menjajal kejuaraan dari tingkat kabupaten hingga provinsi. Hasilnya tak main-main, empat medali emas, empat perak, dan satu perunggu telah ia persembahkan.
Adapun deretan kompetisi yang berhasil dijuarai, meliputi Juara 2 Prakadet Putri Taekwondo antar pelajar Bojonegoro 2024; Juara 2 Taekwondo POPKAB III Bojonegoro 2025; Juara 2 Jatim Open Piala Koni Pusat RI di Kanjuruhan Malang 2024; Juara 2 Tekwondo Championship Jatim Reborn 2024; Juara 1 Kejuaraan Provinsi antar pelajar dan mahasiswa Taekwondo Jatim 2024 di Malang; Juara 1 Kejuaraan Provinsi Taekwondo Indonesia antar pelajar 2024; Juara 1 Kejuaraan Provinsi Jatim Road to Porprov 2025 di Jember; Juara 1 Taekwondo Championship Piala Walikota Surabaya se-Jatim 2024; dan Juara 3 Kejuaraan Nasional Indonesia Superfight Taekwondo Championship 2025.
“Paling suka saat bisa mengalahkan lawan. Saat sudah bisa menendang kepala lawan, skornya langsung berganda. Tidak perlu lama-lama main, skor sudah tinggi,” bebernya.
Sebuah pencapaian lahir dari keringat panjang. Bahkan ketika ayah harus dinas di luar Jawa. Bersama Bunda dan adik, Kia menempuh perjalanan jauh untuk bertanding. Menyatukan niat dan menyegarkan jiwa. Kalah pun tak mengapa, terpenting pulang dengan pengalaman dan senyuman.
“Selain bertanding, kami niatkan dari rumah sekalian jalan-jalan. Refreshing, biar kalaupun kalah, tidak kecewa-kecewa banget. Selain itu, setiap habis pertandingan, pasti dapat rewards jalan-jalan,” terangnya.
Setiap kemenangan berdampingan dengan risiko. Begitupun yang dirasakan oleh gadis cilik tinggal di Jalan Teuku umar, Kadipaten, Bojonegoro tersebut. Cedera, kelelahan, tekanan mental, hingga waktu bermain yang terpangkas. Semua ia jalani dengan manajemen waktu yang ketat. Namun, dengan dukungan penuh keluarga, pelatih, serta sekolah. Segala duka tersebut mampu dilalui dengan baik. Juga, menjadi pengalaman berharga dalam prosesnya menjadi juara.
“Tujuannya menjadi atlet berkarakter. Menjadi juara yang tidak hanya hebat secara fisik. Tapi juga memiliki akhlak mulia dan beriman. Itu salah satu harapan kedua orang tua saya,” lanjutnya.
Di balik kilau prestasi yang berhasil diraih, Kia menyimpan cita-cita yang lembut. Yakni, menjadi dokter dan hafidz Alquran.
“Saya ingin jadi dokter dan hafidz Quran. Sehingga, orang tua saya mau menaruh saya di pondok. Diusia saya yang ke 12 tahun ini, mungkin akhir dari saya tampil untuk pertandingan. Alhamdulillah sudah terwujud sampai tingkat nasional,” pungkasnya. (ewi/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana