Mimpi besar tumbuh dari ketekunan belajar dan keberanian Kalila Rafifatu Rifda dalam menghadapi tantangan. Dengan semangat dan tekad kuat, bocah 10 tahun ini sukses meraih berbagai prestasi membanggakan. Baik di tingkat lokal maupun nasional.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
Tidak ada kata menyerah dalam kamus kecil Kalila Rafifatu Rifda. Dengan semangat yang terus menyala dan tekad yang dipupuk sejak dini, bocah 10 tahun ini melangkah mantap di jalur sains.
Rentetan prestasi yang berhasil diraih menjadi penanda bahwa kerja keras, disiplin belajar, dan keberanian menghadapi tantangan mampu mengantarkannya hingga menembus panggung nasional.
Ketertarikan Kalila, sapaan Kalila Rafifatu Rifda, pada dunia sains tumbuh sejak usia delapan tahun, tepatnya saat masih duduk di kelas 2. Buku-buku ensiklopedia menjadi sahabat setianya.
Halaman demi halaman dibaca dengan rasa ingin tahu yang tak pernah kenyang. Dari sanalah orang tua mendorongnya mencoba kompetisi sains. Upaya awal itu belum berbuah hasil. Namun, kegagalan tak pernah menjadi akhir cerita. Ia justru menjadi pijakan untuk melompat lebih tinggi.
Siswa kelas 4 SD Muhammadiyah 2 Bojonegoro tersebut dikenal gemar mempelajari hal-hal baru, terutama anatomi tubuh manusia. Baginya, tubuh manusia adalah teka-teki indah yang ingin ia pahami satu per satu. Ketertarikan itu pula yang kelak menuntunnya bercita-cita menjadi dokter dan melanjutkan studi di Universitas Airlangga Surabaya. Cita-cita yang disulam sejak dini, dengan benang disiplin dan rasa ingin tahu.
“Ingin kuliah kedokteran di Universitas Airlangga,” ujar anak perempuan tinggal di Desa/Kecamatan Gayam tersebut.
Kalila juga kerap mengikuti kompetisi robotika serta Bahasa Inggris. Di kelas 4, Kalila memilih jalur yang tak biasa. Ia menjadi satu-satunya siswi perempuan di kegiatan ekstrakurikuler robotika. Di antara teman-teman laki-lakinya, Kalila berdiri percaya diri.
Dunia sains dan teknologi tak mengenal sekat gender. Kalila membuktikannya dengan karya serta prestasi. Dalam robotika, ia paling menikmati proses menciptakan robot baru. Sementara dalam sains, anatomi manusia tetap menjadi favoritnya.
Menjelang kompetisi, Kalila punya kebiasaan khas. Ia membuat catatan-catatan kecil, menuliskan istilah-istilah yang belum dipahami. Catatan itu menjadi senjata sunyi yang selalu dibawanya. Juga, saat menemui soal yang sulit. Ia tak ragu meminta buku baru kepada orang tua atau berdiskusi dengan guru pembimbing olimpiade di sekolah.
Tekad kuat berbalut semangat tersebut mengantarkannya pada capaian deretan prestasi membanggakan. Di antaranya, Juara 4, Medali Perak Olimpiade Sains Kelas 3 Final Nasional dari Kurva di Universitas Airlangga 2025; Medali Emas Olimpiade Sains Level 2 Final Provinsi dari OMNAS 15 di UNESA 2025; Juara 2, Medali Emas dalam Olimpiade Sains Level 2 Final Nasional HOTS competition di UNESA 2025; Juara 1 Olimpiade IPAS Level 1 dari Al-Fatimah Competition 2026, dan Juara 1 Nasional Robocamp di Jakarta bersama tim Roboranger dari SD Muhammadiyah 2 Bojonegoro 2025. Tak hanya itu, Kalila juga menorehkan prestasi membanggakan di bidang keagamaan, yakni lulus munaqosyah Juz 30 di 2024 dan hafal 100 hadits beserta artinya dari Yahqi di 2025.
“Tujuan mengikuti banyak kompetisi, untuk melatih mental dan jiwa kompetitif. Agar siap menghadapi tantangan di masa depan. Menang kalah itu biasa,namun pengalaman bertemu dengan banyak anak,membangun koneksi dengan berbagai macam sekolah itu yang luar biasa,” terangnya.
Dengan motivasi dari keluarga. Juga, jargon yang selalu dingiangkan. Bahwa kalah memang merupakan hal biasa. Terpenting, sudah berusaha. Kalila terus melangkah ke depan. Dengan harapan, bisa membuat harum nama sekolah dan Bojonegoro. Pada kompetisi sains, baik di tingkat nasional maupun internasional. (ewi/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana