Malam sering menjadi saksi ketika Brilian Syah Putra menunduk di hadapan kanvas digitalnya. Pemuda Dukuh Nglorog, Desa Bangsri, Kecamatan Jepon itu merangkai tiap gelap menjadi bahasa visual.
RAHUL OSCARRA DUTA, Blora
SERINGKALI karya seni bawah tanah atau underground dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Hal itu membuat Brilian membuktikan, bahwa lukisan gelap bisa untuk hidup lebih sejahtera daripada pandangan skeptis itu. Sebab, karya-karya ilustrasinya diminati oleh pasar internasional.
“Alhamdulillah, selama ini pasarnya lebih nyantol di internasional. Laku kerasnya malah di USA daripada Indonesia,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro saat ditemui di kedai kopi langganannya.
Pemuda 23 tahun itu menceritakan awal mula dirinya menggeluti dunia ilustrator itu. Sejak kecil dirinya dicekoki seni mendiang sang kakek dan ayahnya. Goresannya muram, nadanya sunyi, namun justru itulah yang mengantarkan ilustrator muda ini menembus pasar internasional, menjadikan dark art sebagai jalan hidup sekaligus pengakuan.
“Dulu waktu kecil dikenalin artwork atau sampul album band sama mbah. Beliau juga ngajarin saya ngelukis realis. Terus sama ayah juga diajari ngelukis. Kebetulan Almarhum ayah juga hobinya ngelukis,” ujarnya.
Sejak itulah dirinya terus menekuni goresan-goresan ilustrasi yang membawanya sampai saat ini. Ia juga menjelaskan, awal masuk pasar internasional itu saat iseng-iseng mengunggah hasil karyanya di media sosial.
“Dulu kali pertama berani nampilin diri di 2016. Tapi, nyantol ke klien itu sekitar 2019, saya upload di Facebook. Tiba-tiba nyantol ada klien dari Amerika. Omzet pertama tuh 50 Dollar atau sekitar Rp 600 ribu saat itu,” jelasnya.
Dari situ, dirinya mulai merasa cocok dengan pekerjaan sebagai ilustrator. Walau begitu, ia juga akui ada pasang surut di awal-awal tahun ia menekuni profesi tersebut. “2019-2021 itu agak susah. Pasarnya masih belum stabil. Nah, sejak 2022 pasca-COVID, mulai enak flow-nya. Alhamdulillah sampai sekarang sudah dapat ritmenya,” terangnya.
Penghasilan per bulannya pun tak main-main. Ia mematok harga setiap ilustrasinya minimal 100 Dollar. Tak tanggung-tanggung, penghasilan sebulannya bisa menyentuh 500 hingga ribuan dollar.
“Paling banyak dulu ada seribu dollar lebih. Karena kliennya mancanegara ya. Jadi, saya matoknya dollar. Klien USA, UK, Norwegia, Ukraina, New Zealand itu alhamdulillah sudah jadi langganan,” ujarnya.
Ia menyebut, hasil karya ilustrasinya kebanyakan digunakan untuk artwork atau logotype produksi musik hardcore, metal, dan death metal. Selain itu, juga merchandise untuk brand dan lain sebagainya.
“Pasarnya memang untuk underground. Saya pernah coba buat mainstream tapi memang belum rezekinya,” ucapnya sambil tertawa. Ia juga menjelaskan, sebenarnya dirinya juga menerima pasar dalam negeri. Hanya saja peruntungannya tak sebesar klien mancanegara.
“Ya kalau di Indonesia, saya matok harga Rp 500 ribu. Itu pun masih dinego. Jadi, ya sudah gak papa buat penghasilan tambahan. Cuman memang fokusnya luar negeri biar lebih cuan,” jelasnya.
Dengan konsistensinya itu, Brilian berharap bisa terus menjadi ilustrator hingga tua nanti. “Saya sudah merasa di titik kalau bisa ya sampai tua jadi ilustrator. Sudah nyaman di sini,” tutupnya dengan gelak tawa. (hul/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana