Lewat film dokumenter berjudul Banana Sheath Craft: Young People Preserving Nature’s Heritage, Abul membawa kisah sederhana dari Bojonegoro menembus panggung Asia Tenggara.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro
KAMERA Abul sudah menyusuri Desa Balenrejo, sentra produksi kerajinan gedebog pisang sejak Oktober lalu. Ia merekam setiap tahapan, dari hulu ke hilir, termasuk keterlibatan anak-anak dan remaja yang sudah piawai mengolah pelepah pisang menjadi karya bernilai tinggi.
Karya itu mampu mengantarkan Abul menjadi juara The Southeast Asian Traditional Craft Encyclopedia (SEATCE) Youth Video Contest 2025 di Brunei Darussalam, pada 10 Desember 2025.
Ia merekam denyut kehidupan para perajin pelepah pisang, dari proses awal hingga menjadi produk kriya. “Karya video tentang kerajinan tradisional dari negara asalnya,” tutur pemuda asal Desa Sudu, Kecamatan Gayam itu.
Pilihan mengangkat gedebog pisang bukan keputusan spontan. Sebelum menentukan tema, Abul terlebih dahulu berdiskusi dengan dosen pembimbingnya. Dari obrolan itu, lahir kesepakatan untuk mengangkat potensi lokal yang kerap luput dari sorotan.
“Setelah berkonsultasi dengan dosen saya Pak Rizqi, kami sepakat untuk angkat kerajinan pelepah pisang ini,” ungkap mahasiswa semester 5 di Universitas Bojonegoro (Unigoro) itu.
Bagi Abul, videografi bukan sekadar alat lomba. Dunia visual telah menjadi bagian dari hidupnya sejak 2019. Ketekunan itu membuahkan berbagai capaian, sebelumnya telah meraih juara ketiga kompetisi video reels Jawa Timur Gerbang Baru Nusantara Anugerah Humas Indonesia 2025.
“Videografi adalah passion saya sejak 2019. Saya suka bikin-bikin video features dan human interest," ceritanya.
Dalam kompetisi, ia memilih tema yang sejalan dengan minat tersebut—ekonomi, pariwisata, dan budaya—agar proses kreatifnya berjalan maksimal. "Saya memang punya usaha di bidang fotografi dan videografi. Mumpung ada kesempatan, saya ingin berkompetisi ke jenjang lebih tinggi,” bebernya.
Dalam setiap produksi, Abul dikenal nyaris mengerjakan semuanya sendiri. Ia menjadi kameramen, pilot drone, sutradara, penulis naskah, editor. Keahlian itu terasah dari keterlibatannya dalam berbagai komunitas fotografi dan videografi, serta workshop yang ia ikuti untuk meningkatkan kompetensi.
Dari gedebog pisang yang kerap dipandang sebelah mata, Abul Fida Ismail merangkai cerita tentang alam, manusia, dan warisan budaya. Cerita yang lahir dari desa, lalu melangkah jauh hingga panggung Asia Tenggara. (dan/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana