KEBIASAAN menulis karena cinta literasi, mengatarkan Nur Nisrina Hanif Rifda kuliah diluar negeri, tepatnya di University of Sydney
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro
LANGKAH Nur Nisrina Hanif Rifda menuju bangku kuliah S-2 di luar negeri ternyata berakar dari kebiasaan yang sangat sederhana: menulis cerita anak dari rumahnya di Desa Bulu, Kecamatan Balen. Sejak kecil, sudah akrab dengan dunia literasi.
“Dulu sering nulis cerpen/cerbung di rubrik Koran Anak Radar Bojonegoro,” kenangnya.
Kecintaan pada dunia ilmu dan literasi itu berkembang menjadi mimpi besar. Nisrina mengatakan sejak kecil ia memang ingin belajar di negara lain.
“Saya sudah punya cita-cita sekolah di luar negeri agar akses ilmu pengetahuannya lebih luas,” ujarnya.
Bahkan saat kuliah S-1, ia sempat merencanakan mengikuti study exchange. Namun pandemi Covid-19 mengubah banyak hal. “Akhirnya keinginan study exchange ini belum benar-benar diseriusi karena penyesuaian pandemi dan saya merasa belum siap,” katanya.
Saat menempuh S-1 Psikologi, Nisrina aktif di bidang Psikologi Pendidikan dan Perkembangan. Ia beberapa kali mengikuti pengabdian masyarakat di Yogyakarta sebagai relawan pengajar, dan terlibat dalam program edukasi anak di desa binaan kampus. Latar belakangnya sebagai penulis sangat mempengaruhi pendekatannya.
“Karena background saya penulis, saya banyak pakai pendekatan tulisan anak, dongeng, dan cerita untuk stimulasi anak,” tuturnya. Ketika menulis skripsi, ia mendalami topik disleksia, kondisi yang membuat anak mengalami hambatan dalam literasi.
Penelitian itu memperluas wawasannya tentang kebutuhan belajar yang berbeda-beda. Setelah lulus pada 2023, ia bekerja sebagai brain training coach di Jakarta. “Istilahnya seperti personal trainer, tapi untuk perkembangan motorik dan kognitif anak,” ujarnya sambil tersenyum.
Pengalaman itu justru membuka minat barunya: menciptakan alat stimulasi kognitif anak yang terjangkau, ilmiah, dan sesuai budaya Indonesia. Pencarian tersebut akhirnya membawanya ke berbagai kampus luar negeri.
Dari hasil risetnya, ia menemukan program yang paling sesuai dengan kebutuhan akademik dan minat penelitiannya. Kini Nisrina menempuh pendidikan Master of Education (Educational Psychology) di University of Sydney.
Keputusan melanjutkan studi ke luar negeri bukan sekadar soal lokasi, melainkan juga langkah untuk memperluas perspektif. “Saya ingin fresh start, belajar di lingkungan baru yang dosen dan teman-temannya belum saya kenal, supaya ilmunya lebih objektif dan koneksinya lebih luas,” ungkapnya.
Ia juga ingin memahami secara langsung bagaimana model pendidikan di negara lain. “Sekalian studi banding, sebenarnya cara pengajaran di Australia seperti apa, apa bedanya dengan Indonesia, atau negara lain,” kata Alumnus Universitas Gadjah Mada itu.
Dari lembaran Koran Anak tempat ia menulis cerbung, hingga ruang kelas internasional di Australia, perjalanan Nisrina membuktikan bahwa mimpi masa kecil bisa tumbuh jauh lebih tinggi ketika dijaga, dipupuk, dan diberi kesempatan. (dan/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana