Fauzan memilih melanjutkan karir di angkat besi sebagai pelatih. Fauzan berhasil mengantarkan atlet angkat besi Bojonegoro meraih prestasi di berbagai kejuaraan.
IRVAN RAMADHON, Bojonegoro
KECINTAAN M. Fauzan pada olahraga angkat besi tak pernah berhenti. Setelah meraih berbagai prestasi sebagai atlet, kini Fauzan mantap menekuni karir sebagai pelatih.
Dedikasi di angkat besi tak diragukan lagi. Kini Fauzan berhasil mengantarkan atlet angkat besi Bojonegoro meraih berbagai prestasi. Baik di kejuaraan provinsi (kejurprov) maupun pekan olahraga provinsi (porprov), bahkan kejuaraan nasional (kejurnas)
20 medali yang diraih atlet angkat besi Bojonegoro pada Porprov 2025 lalu tak lepas dari kontribusi Fauzan. Tentu dalam melatih hingga mendampingi atlet angkat besi ketika bertanding.
Kiprah Fauzan sebagai atlet dimulai 2020 lalu. Tepatnya ketika batal mengikuti pekan olahraga nasional (PON). Pelatih 28 tahun itu memutuskan menjadi pelatih untuk membagikan ilmu dan pengalamannya ketika menjadi atlet dulu.
Fauzan sudah terlalu cinta dengan angkat besi. Sehingga ingin melanjutkan karir di olahraga tersebut. Sekaligus menggembangkannya di Bojonegoro.
Prestasi yang diraih atlet menjadi tujuan tertinggi Fauzan. Baik terbaik di porprov, kejurprov, kejurnas, PON, bahkan di level internasional nantinya.
''Untuk saat ini masih mengantarkan atlet berprestasi dia porprov dan kejurnas yang sudah tercapai. Semoga dengan berjalannya waktu satu-satu terlewati atau tercapai.
Melihat anak didiknya bisa tampil maksimal dan bisa meraih juara menjadi kebahagiaan bagi Fauzan. Walau proses itu tidak mudah. Terlebih atlet memiliki bermacam karakter.
''Belum lagi cidera karena kelalaian atlet kurang pemanasan, kurang tidur, hingga kurang displin intinya. Tentu membuat atlet disiplin dengan bermacam-macam karakter memang susah tapi terus tanpa henti diusahakan agar bisa membuat anak-anak mengerti apa itu displin," ungkap pelatih asal Desa/Kecamatan Dander tersebut.
Fauzan merasakan dunia yang berbeda sebagai atlet dan pelatih. Ketika menjadi atlet tidak memikirkan program latihan secara kompleks. Sebaliknya hanya fokus latihan dan melawan rasa jenuh dengan semangat pingin menjadi juara.
Sedangkan ketika sebagai pelatih harus memikir program latihan semua atlet. Juga memikir kekurangan masing-masing atlet.
''Bagaimana caranya atlet bisa tampil terbaik di pertandingan/kejuaraan dan capai prestasi," jelas pelatih Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI) Bojonegoro tersebut.
Fauzan sering diremehkan lawan atau orang lain sebagai pelatih. Namun hal tersebut membuat lebih semangat melatih untuk membungkam orang-orang memandang sebelah mata dengan hasil terbaik.
Fauzan bertekad mengantarkan atlet angkat besi Bojonegoro meraih prestasi setinggi-tinginya. Juga membuka lebar peluang bagi pemuda dan pemudi di Bojonegoro yang ingin bergabung di angkat besi. Tentu dengan gratis tidak dipungut biaya.
''Justru bisa mendapatkan uang pembinaan," terangnya. (irv/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana