Sekelompok muda-mudi di Bojonegoro perlahan menggeser anggapan teater sebagai kesenian eksklusif. Jika semua tak tahu apa teater, kini kelompok yang bernamakan Teater Sagiwon itu ingin mengenalkan kesenian yang melebur dengan masyarakat dan persoalannya.
YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro
BARIS melingkar telanjang kaki di atas rumput, begitu mula sekelompok pemuda yang menamakan diri sebagai Teater Sagiwon memulai kegiatannya mengolah tubuh. Merasakan sukma, mempertajam konsentrasi, dan imajinasi. Juga, melatih vokal serta improvisasi.
Kegiatan di bawah terik matahari saat pukul 12.00 WIB dan 14.00 WIB akhir pekan itu menjadi ide latihan baru. Tubuh teater bukan tubuh tanpa olah-olah. Olah raga, jiwa, hati, dan pikiran. Latihan keras sudah jadi makanan. Demi menuangkan rasa yang paten untuk kesenian, mengkampanyekan teater bukan seni bagi segelintir orang.
Ketua Teater Sagiwon Dicky Candra Setiawan mengungkapkan, banyak hal. Bagaimana awal terbentuk, kapan, hingga niatnya ke depan. "Sagiwon ini terbentuk 20 Desember 2023, awalnya bernama Teater Gabud. Kami dulu menganggap bawa berteater sebagai ajang gabut," ucap kreator konten kerap disapa Dicky Munyuk itu.
Tapi, lanjut dia, seiring berjalannya waktu mulai sadar berteater bukan sekadar gabut, namun kebutuhan untuk mengekspresikan diri dari kekangan-kekangan sosial yang membatasi. Sehingga, ia bersama rekan-rekannya mengubah nama menjadi "Sagiwon".
"Secara nama kami tidak tahu dengan pasti apa itu Sagiwon. Salah satu cara untuk menemukan makna itu adalah dengan berproses," ngakunya. Sehingga, tutur dia, setiap individu dari internal maupun eksternal teater bebas menemukan makna Sagiwon.
Bagi dia dan sejumlah rekannya, teater merupakan kebebasan berekspresi. Jiwa muda menjadi spirit utama proses kreatifnya. Tidak terpaku dengan batasan konvensional untuk menuangkan ide dan gagasan.
"Dari karya-karya dilahirkan terkesan urakan dan ugalan sesuai ide dan gagasan anak muda. Kami menyadari tiap anggota memiliki keresahannya masing-masing. Keresahan itu yang menjadi bibit karya dan didiskusikan menjadi sebuah karya yang ugal," ujarnya.
Dicky mengungkapkan, ada latihan dengan cara baru yang dilakukan. Kegiatan di alam. Ini bermula dari kesadaran bahwa zaman sekarang terlalu melekat dengan teknologi. Alam dipilih sebagai media menumbuhkan kembali perasaan yang hilang karena mesin-mesin yang mudah digenggam itu.
"Sering kali kami berkumpul secara fisik ada, tapi secara pikiran kita mencar (berpisah-pisah). Adanya latihan alam ini kami mencoba mengaktifkan kembali panca indra yang selama ini kami anggap mati karena teknologi. Biar bisa menyatu menjadi sebuah energi besar atas nama chemistry," ujarnya.
Ia mengungkapkan, dari latihan alam ini berencana melakukan tur di desa-desa. Diawali dua desa. Keresahan peminat dan fasilitas gedung kesenian menjadi spirit Dicky dan anggotanya blakrak'an atau berkunjung ke desa-desa jemput bola.
"Gagasan yang dibawa gang umum dijumpai di desa, berdialog gaya desa," katanya. Bahkan, imbuh dia, secara setting atau pengaturan panggung meminjam depan rumah warga untuk pentas. Dengan background asli rumah tersebut.
"Dengan begitu kami berharap teater bukan lagi kesenian eksklusif, tapi kesenian yang benar-benar melebur dengan masyarakat dan persoalannya," harap Dicky. (yna/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana