Pemuda yang dulu akrab dengan lumpur sawah Bojonegoro, kini meniti karier pertanian modern di Jepang. Dari sawah di Krondonan hingga Kota Awara, Toni membuktikan anak desa pun bisa menanam mimpi.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro
Di bawah dingin Kota Awara, Prefektur Fukui, seorang pemuda asal Bojonegoro tersenyum sambil mengangkat baki berisi bibit hijau muda.
Dialah Toni Gunawan, anak muda dari Desa Krondonan, Kecamatan Gondang, yang kini meniti karier di Jepang sebagai pekerja berketerampilan khusus di bidang pertanian.
“Benar, sekarang masih di Jepang,” ujarnya singkat saat dihubungi via sambungan telepon.
Di balik kalimat sederhana itu tersimpan perjalanan panjang penuh perjuangan dan kesabaran. Sebelum akhirnya berangkat pada 2024, Toni harus melewati berbagai tahap.
Mulai pelatihan bahasa Jepang dan keterampilan teknis, termasuk ujian kompetensi yang tidak mudah. Semua dijalani dengan tekun, demi satu tujuan, bisa bekerja di negeri yang dikenal dengan kedisiplinan dan teknologi pertaniannya.
“Saya bersyukur mendapat kesempatan ini,” katanya.
Kini Toni bekerja di Hasegawa Farm, salah satu perusahaan pertanian modern di Prefektur Fukui.
Toni mengaku belajar banyak hal, dari sistem tanam presisi, pengelolaan lahan, hingga cara menjaga produktivitas tanaman di tengah cuaca ekstrem.
"Jepang memberi saya pengalaman kerja, kedisiplinan, dan wawasan baru dalam pertanian modern,” ceritanya.
Namun akar kisah Toni tidak dimulai di luar negeri. Ia tumbuh di desa kecil di lereng bukit Bojonegoro bagian selatan, di tengah lahan brambang dan jagung yang dulu sering digarap.
Dunia pertanian sudah melekat dalam hidupnya sejak remaja. “Sejak SMK sudah tekun, dan sekolah di SMK pertanian (SMK Bagor, Kabupaten Nganjuk),” tutur Handoko, tetangga Toni.
“Sebelum berangkat ke Jepang, juga tani di Krondonan. Ikut tanam brambang dan jagung.” imbuh pria yang sekaligus Kasi Pelayanan Desa Krondonan itu.
Bagi Toni, Jepang bukan sekadar tempat bekerja. Tempat belajar tentang ketelitian, dan bagaimana teknologi bisa berjalan berdampingan dengan kerja keras manusia. Nilai-nilai yang ingin ia bawa pulang suatu hari nanti ke Bojonegoro. (dan/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana