Sejak dulu kereta api menjadi salah satu kendaraan yang diminati masyarakat untuk berpergian. Termasuk ketik arus mudik dan balik lebaran. Seperti yang terjadi pada momentum Hari Raya Idul Fitri atau lebaran November 2005. Walau penumpang berdesakan di dalam gerbong, namun tarif yang murah menjadi daya tarik bagi masyarakat.
Berdasarkan arsip Jawa Pos Radar Bojonegoro pada 6 November 2006 penumpang kereta api ketika arus balik lebaran melonjak tajam. Lonjakan penumpang selain terjadi karena arus balik, kenaikan tarif bus antarkota akibat kenaikan harga BBM juga menjadi menjadi alasan.
Kala itu kereta api Semarang - Surabaya dan Bojonegoro - Surabaya selalu dijejali penumpang. Ketika itu harga tiket kereta api Semarang-Surabaya hanya Rp 7 ribu. Sementara Bojonegoro - Surabaya hanya Rp 3 ribu. Sedangkan tarif bus bisa tiga kali lipat tarif kereta api.
Sumiyatun penumpang kereta api dari Kecamatan Kradenan, Blora mengaku memilih kereta api karena harga tiket kereta api lebih murah dibandingkan bus.
"Tidak apa-apa berdesakan terpenting bisa sampai Surabaya dan hemat biaya," ungkapnya.
Kepala Stasiun Bojonegoro kala itu Ngadimin mengatakan untuk mengantisipasi lonjakan penumpang pada arus balik, disiapkan gerbong barang bagi kereta api jurusan Bojonegoro-Surabaya, dan Bojonegoro - Semarang. (irv/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana