Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Yoko Susilo Kiandono. Dalang Manten Gen Z Asal Kecamatan Ngasem: Kena Cemooh Bikin Termotivasi untuk Terus Belajar

Yana Dwi Kurniya Wati • Senin, 13 Oktober 2025 | 16:00 WIB
LESTARIKAN BUDAYA: Yoko Susilo Kiandono kenakan beskap lengkap saat memandu acara pernikahan. Ia geluti profesi dalang manten sejak 2022 lalu.
LESTARIKAN BUDAYA: Yoko Susilo Kiandono kenakan beskap lengkap saat memandu acara pernikahan. Ia geluti profesi dalang manten sejak 2022 lalu.

 

Menjadi dalang manten atau pengantin memikiki tantangan tersendiri. Namun, itu berhasil ditaklukkan oleh Yoko Susilo Kiandono, pria asal Desa Jelu, Kecamatan Ngasem.


YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro


’’Para rawuh ingkang kula hormati, para keluarga temanten ingkang bahagia, sumangga kita sedaya ngaturaken puji syukur dhumateng gusti kang maha agung ingkang sampun maringi kita sedaya nikmat lan rahmat,” ucap Yoko Susilo Kiandono, Dalang Manten tiap kali membuka prosesi pernikahan.

Dalam satu kesempatan, Jawa Pos Radar Bojonegoro mewawancarai pria kerap disapa Yoko itu. Dia mengungkapkan, kalimat di atas menjadi pembuka acara pernikahan. Satu per satu perjalanannya dalam menjadi dalang manten pun mulai diceritakan.

Yoko menjadi dalang manten sejak 2022. Menurutnya, tergolong pemain baru dalam dunia pedalangan manten dari generasi Z (gen Z). Namun, bukan jadi hambatan untuk tetap berkarya. ’’Dan, memang ada garis keturunan dari bapak pernah jadi dalang wayang kulit dan pengrawit atau panjak,” ucap pria kelahiran 1999 itu.

Dari keluarga, lanjut dia, memang sudah ada saudara yang juga seorang dalang manten bernama Dian Saputra. Dia mengatakan, awal mula belajar hanya karena penasaran bagaimana rasa menjadi seorang dalang manten muda di Bojonegoro khususnya.

’’Lalu, mulai belajar privat di sekolah pranatacara di Kecamatan Rengel, Tuban. Ngadi Raras,” imbuhnya. Hal itu ia lakukan karena merasa sudah ingin serius belajar jadi seorang dalang manten yang baik dan benar.

Tentunya juga bukan hanya pelaku seni. Tapi, meneruskan jadi seorang seniman seperti bapaknya. ’’Untuk jadi dalang mesti harus selalu giat belajar dan jangan cepat berpuas diri,” ujarnya.

Dia menuturkan, bagi yang ingin belajar dalang harus cari pengalaman dan wawasan seluas mungkin. Mengenai tujuan ke depan, kata dia, ingin menjaga dan tetap melestarikan budaya Jawa. ’’Jangan sampai tergerus budaya dari luar hingga nantinya bisa tenggelam,” tuturnya.

Yoko berkomitmen selalu menekuni dalang manten karena sudah menjadi satu hobi sekaligus profesi. Bagi dia, banyak tempat kerja tapi belum tentu tempat itu bisa sekaligus menyalurkan hobi. ’’Kalau job atau tanggapan Alhamdulillah sudah sering ke luar masuk baik dalam dan luar Bojonegoro,” bebernya.

Di antaranya Solo, Blora, Lamongan, Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, dan Tuban. Selain jadi dalang manten, Yoko juga sedang menekuni dunia MC Gambus. Khususnya dari Kecamatan Malo, Zalzalah Gambus.

’’Tentunya respons masyarakat begitu baik dan positif karena juga meneruskan darah seni keluarga meski di awal belajar banyak cemooh luar biasa,” akunya. Menurutnya, pernah dicemooh menjadi dalang manten, karena bahasanya susah dan suara harus bagus.

Serta, mental yang kuat. Namun, itu malah menjadi motivasi untuk terus belajar dan berhasil menjadi seorang dalang manten. ’’Tentunya juga seiring jam terbang yang mulai padat terkait suara dan mental timbul dengan sendirinya akhirnya,” tutur dia.

Yoko menambahkan, dalam perjalanan menjadi dalang kerap kali menemui tantangan dan kendala. Namun, harus bisa belajar beradaptasi secara cepat dan mengatasi masalah yang datang.

’’Tetap tenang berguru dan belajar dari setiap perjalanan. Juga, sharing dengan sesama rekan seprofesi terop (tenda hajatan) tentunya solusi terbaik di setiap masalah,” tuturnya.  Menurutnya, menjadi dalang manten berbeda dengan dalang atau MC seremonial lainnya.

Ada pakemnya tersendiri. Sedangkan, kalau seremonial tidak terlalu pakem. ’’Kalo MC manten ada pakemnya dan wajib ketika acara panggih (temu manten) harus sesuai pakemnya. Tetapi, ketika resepsi nanti bisa bikin sesuai dengan request (permintaan) klien. Misal diberi seru-seruan dengan game atau flashmob,” pungkasnya. (*/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Pedalangan #manten #seniman #pengrawit #Ngasem #Pranatacara #pernikahan #generasi z #tuban #pemain baru #bojonegoro #GAMBUS #pengantin #lamongan #dalang wayang kulit #Gen Z #dalang