Malam itu, Jumat (3/10), tepi Bengawan Solo berubah menjadi ruang sunyi yang syarat makna. Lampu kafe di Kelurahan Kauman, Kecamatan Bojonegoro Kota, meredup pelan. Di atas panggung sederhana, berdiri satu sosok perempuan dalam balutan busana merah.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro
NAPASNYA berat, matanya kosong, namun suaranya bergetar kuat menembus dinding waktu. Dialah Dewi Qurrota Ayun, pemeran teater yang pernah menimba ilmu di ISI Yogyakarta. Ia seorang diri memanggungkan monolog berjudul “Feng Ying”, adaptasi naskah karya Bode Riswandi yang terbit pada 2024.
Malam itu, sekitar seratus penonton yang mayoritas anak muda terpaku dalam diam. Tak ada musik latar yang megah, tak ada properti berlebihan. Hanya tubuh, suara, dan kenangan pahit masa lalu yang menjelma jadi panggung.
’’Naskah baru dari Pak Bode Riswandi ini belum banyak digarap, apalagi oleh seniman perempuan. Aku pengin ngasih yang fresh ke penonton,” kata Ayun usai pementasan. Naskah Feng Ying berkisah tentang seorang perempuan yang menyimpan luka lama.
Ia adalah korban dari kerusuhan 1998, sebuah sejarah kelam yang tak semua generasi kini mau menoleh ke belakang. Melalui tokoh Feng Ying, Ayun membawa ingatan itu kembali hidup, menghadirkan trauma yang tak pernah sembuh, tapi juga menuntun penonton untuk mengingat.
’’Saya sebagai aktor hanya ingin mengingatkan kisah ini, karena peristiwa itu seperti hilang begitu saja,” ujarnya. Sebelum Ayun naik panggung, malam dibuka dengan pembacaan puisi oleh tiga seniman senior Bojonegoro.
Yakni, Yuli Zedengart, Burhanudin Joe, dan Agus Sighro. Mereka melantunkan sajak yang menggugah tentang sejarah dan Bojonegoro. Seolah menjadi prolog yang mengantar penonton menuju kenangan kolektif tentang luka dan keteguhan manusia.
’’Di tengah keterbatasan infrastruktur kesenian yang dimiliki Bojonegoro, semangat anak muda tidak terkendala,” kata Agus Sighro, guru seni di SMKN 2 Bojonegoro, yang juga tampil malam itu.
Ia menilai, pertunjukan seperti ini menjadi bukti bahwa bara seni di Bojonegoro belum padam.
’’Semangat berkarya tidak surut. Masih ada bara api di hati pegiat seni, khususnya di bidang teater. Ini artinya semangat untuk membangkitkan Bojonegoro melalui seni itu masih menyala,” ujarnya.
Suara aliran Bengawan Solo malam itu menjadi musik alami bagi pertunjukan. Sesekali angin membawa aroma tanah basah dan kopi hangat dari penonton. Di antara diam dan tepuk tangan, teater kembali menemukan rumahnya, bukan di gedung megah, tapi di ruang kecil tempat suara-suara sunyi diberi kesempatan untuk didengar. (dan/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana