Tekad kuat menyatu hebat dalam diri Krisna Julinanta. Sejak kecil, Ia sudah bertekad untuk melestarikan dan menghidupi seni budaya daerah. Melalui grup kesenian yang didirikannya, Krisna berharap dapat menularkan kecintaan terhadap pertunjukan kesenian kepada masyarakat.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
DI BALIK alunan kendang yang berpacu dengan derap kaki penari jaranan. Terdapat sosok pemuda yang tiada lelah merajut mimpinya untuk melestarikan seni budaya daerah. Dia adalah Krisna Julinanta.
Pemuda 22 tahun asal Desa/Kecamatan Dander yang telah jatuh hati pada kesenian jaranan sejak kecil. ’’Di dunia seni, khususnya seni musik tradisi, saya di instrumen kendang. Baik kendang jaranan, campursari, tayub, maupun jaipong,” kata mahasiswa semester 7 jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta tersebut.
Tidak hanya sekadar hobi, bagi Krisna, kesenian telah menjadi nadi dalam hidupnya. Bahkan, sejak kelas 4 SD, ia sudah mendirikan grup jaranan yang beranggotakan anak-anak kecil. Atau dikenal dengan Jaranan Cilik.
Grup itu berdiri karena ketertarikan yang muncul dalam diri Krisna ketika melihat kesenian jaranan pentas di daerah tempat tinggalnya. Dengan dukungan dari orang tuanya yang membelikan kendang dan beberapa alat musik jaranan kala itu. Menjadi motivasi sekaligus semangat tersendiri untuknya tumbuh dan berkembang dalam seni pertunjukan ini.
’’Dari situ, banyak teman-teman yang juga mulai tertarik untuk ikut. Saya berlatih dengan otodidak, tanpa pelatih. Hanya bermodalkan VCD jaranan, lalu saya tirukan,” kisahnya. Dari pertama berdiri, Jaranan Cilik sudah dikenal banyak orang.
Meski terjadi regenerasi pemain karena banyak teman-teman yang mulai fokus pada pendidikan. Kristna tetap bersemangat. Dengan mengajak adek kelas untuk latihan bersama. Ia mampu melanjutkan grup tersebut untuk bertahan hingga sekarang.
Dengan perubahan nama menjadi Atmojo Putro. Perjalanan Admojo Putro kian bergaung. Dari panggung desa, mereka melangkah hingga pentas di Alun-alun Ngawi dalam ajang Pekan Kebudayaan Daerah Jawa Timur 2024.
Tak hanya itu, grup ini kerap dipercaya dinas terkait untuk mengiringi berbagai acara. Dari tari pesona Bojonegoro di HUT kemerdekaan, hingga menjadi pemusik di beragam festival seni lainnya.
’’Senang karena bisa mewadahi teman-teman muda untuk menekuni dunia seni. Ada kebanggaan tersendiri untuk saya karena bisa menularkan ilmu kepada teman-teman,’’ lanjutnya.
Namun, di balik sukacita ada pula duka. Sejak Krisna menempuh kuliah di ISI Surakarta, waktu untuk pulang dan membimbing adik-adik di grup jaranannya kian terbatas. Meski begitu, semangatnya tak pernah padam. Ia terus merajut regenerasi, merekrut anak-anak sekolah agar seni tradisi tak kehilangan napasnya. Mengingat, personil dari grup keseniannya mayoritas merupakan anak sekolah. Baik pemusik maupun penarinya.
‘’Grup saya fokus pada garapan. Jadi, memunculkan hal baru yang sebelumnya belum ada. Tujuannya, untuk memperkuat identitas,’’ lanjutnya. Bagi Krisna, Admojo Putro bukan hanya sebuah kelompok.
Ia adalah rumah bagi jiwa-jiwa muda, tempat mereka tumbuh dengan irama gamelan dan jejak budaya. Harapannya sederhana, namun berakar kuat. Yakni, agar semakin banyak generasi yang jatuh cinta pada seni tradisi, hingga jaranan tak sekadar dipentaskan, melainkan dihidupi. (ewi/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana