Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mochamad Ilhan Izza Irfani, Penulis Muda Berbakat Asal Kecamatan Balen: Ingin Mengharumkan Bojonegoro ke Peta Sastra Nasional

Dhani Wahyu Alfiansyah • Jumat, 15 Agustus 2025 | 21:01 WIB
BEDAH BUKU: Mochamad Ilham Izza Irfani, penulis kelahiran Bojonegoro sedang mengisi bedah buku karyanya. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
BEDAH BUKU: Mochamad Ilham Izza Irfani, penulis kelahiran Bojonegoro sedang mengisi bedah buku karyanya. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

 

Di tengah pesantren yang membatasi gawai, seorang santri asal Bojonegoro menemukan kebebasan justru lewat kata-kata. Dari selembar tulisan yang tak sengaja terbaca teman, kini karyanya melangkah hingga panggung nasional.


DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro


SAAT mondok di PP Bumi Damai Al Muhibbin, Jombang, Mochamad Ilhan Izza Irfani, mengisi waktu luang dengan menulis.

Pemuda berusia 22 ini tak pernah menyangka larangan membawa handphone di pondok pesantren menjadi titik awal perjalanannya di dunia literasi.

Namun, sebuah tulisan yang tertinggal di lemari dan dibaca temannya menjadi pemicu semangat. “Teman saya suka dan mendorong saya menulis lebih banyak. Dari situ saya mulai percaya diri,” kenang Izza.

Bagi Ilham, dunia literasi ibarat menemukan pintu menuju alam baru, sebuah ruang yang memberinya kebebasan penuh untuk mengekspresikan diri. “Tidak semua orang bisa mendengarkan saya, tapi buku dan pulpen selalu menerima saya dalam keadaan apa pun,” ujarnya.

Awalnya pemuda 22 tahun ini larut dalam karya fiksi: puisi, sajak, dan cerpen. Karya-karya itu baginya adalah cermin perasaan sekaligus alat untuk menyampaikan kritik sosial.

Namun, memasuki bangku kuliah di Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Jombang, mulai melirik dunia nonfiksi opini, esai, hingga artikel ilmiah.

Baginya, tulisan nonfiksi mempertajam pola pikir sekaligus memberi manfaat nyata bagi pembaca. Perpaduan fiksi dan nonfiksi itu justru memperkaya diksi dan gaya bahasa yang ia gunakan.

Karya-karyanya sudah termuat di media, mading lembaga, hingga tiga antologi puisi yang diterbitkan komunitas Bebasnulis. Ia pernah mewakili kampus di ajang Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) 2024 untuk lomba penulisan puisi.

Tidak hanya di bidang sastra, ia juga menembus ranah akademik dengan menerbitkan buku Kompilasi 100+ Yurisprudensi Putusan Hakim bersama tim Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Unhasy.

Namun, perjalanan menulisnya tidak selalu mulus. Tantangan terbesar adalah kehilangan ide di tengah proses menulis atau hilangnya semangat. “Kalau begitu, saya biasanya bikin kerangka dulu dan menetapkan deadline supaya terpacu,” katanya.

Salah satu momen yang paling membekas dalam hidupnya adalah saat menulis puisi kritik sosial terhadap kebijakan kampus. Puisinya menuai pro-kontra, bahkan membuatnya menerima telepon dari orang tak dikenal. Tekanan datang dari banyak pihak, namun dukungan dari lingkungan membuatnya tetap teguh.

Hasilnya, kebijakan yang ia kritik akhirnya berubah. Puisi itu kini sudah dibacakan lebih dari sepuluh kali di berbagai forum kampus, dan namanya semakin dikenal di lingkungan akademik.

Di luar dunia tulis-menulis, Ilham juga aktif di berbagai organisasi. Ia menjadi pembina literasi dan public speaking di tiga pondok pesantren, empat organisasi, dan satu forum eksternal. Lingkungan yang suportif membuatnya berani bermimpi lebih besar: mengangkat nama Bojonegoro lewat karya.

Prestasinya pun panjang: Juara 2 Lomba Debat Ilmiah Nasional Univfest Annuqayyah Sumenep 2025, Juara 3 lomba yang sama pada 2024, Juara Harapan 1 di Festival Cinta Buku INSTIKA Sumenep 2023, hingga menjadi satu-satunya tim dari universitas di Jombang yang lolos ke Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia (KDMI) 2024, dan penulis favorit dalam event kepenulisan Bebasnulis. Agustus mendatang, ia akan mewakili kampus di kompetisi debat nasional yang digelar SEF ITB Bandung.

Kini, Ilham sedang menggarap tiga buku pribadi: Pesantren, Organisasi, dan Pemimpin Masa Depan, Sastra Hukum dari Adagium Hukum yang Tercecar, serta kumpulan puisi yang akan ia terbitkan.

Mimpinya jelas, menjadi penulis masyhur dan kreator literasi yang mampu membawa nama Bojonegoro ke peta sastra dan akademik nasional. Baginya, menulis adalah cara untuk menaklukkan lupa. “Apa yang diingat bisa hilang, tapi tulisan akan tetap hidup,” pungkasnya. (dan/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#pondok pesantren #nonfiksi #Pesantren #jombang #nasional #Santri #Mengekspresikan diri #bojonegoro #penulis #kebebasan #Kampus