Pandemi Covid-19 membuat banyak pelaku usaha kelabakan. Termasuk UMKM dari Desa Cancung, Kecamatan Bubulan, Bawang Goreng Sae. Namun, berkat inisiatif dan kerja keras, Wildan berhasil membangkitkan usaha yang dibangun sang bapak.
YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro
SIAPA tak tergiur jika makanan disajikan tanpa bahan pengawet. Alih-alih memilih yang serba kimia. Layaknya Wildan Adzkiya Ainul Fajri, pemuda asal Desa Cancung, Kecamatan Bubulan yang memelopori usaha bidang bawang goreng tanpa bahan pengawet untuk meningkatkan nilai jual hasil pertanian.
Membersihkan bawang di atas ember besar menjadi waktu serius, namun penuh canda tawa. Satu kondisi yang bakal ditemui saat proses produksi. Hal ini digambarkan pemuda kerap disapa Wildan itu.
Dia mengungkapkan, daerahnya memiliki potensi pertanian cukup menjanjikan. Sayang jika dibiarkan. Salah satunya komoditas bawang merah. Meski hasil cukup melimpah, pemanfaatan masih sebatas penjualan dalam bentuk mentah.
Harganya pun fluktuatif dan tidak stabil. Ini membuat pemuda 22 tahun itu mulai memikirkan cara. ’’Awal mula dari bapak saya di 2018. Tapi, ketika ada Covid-19 bisa dibilang usaha hampir gulung tikar sehingga saya inisiatif untuk ambil alih dan melihat potensi komoditi yang kuat dan wajib diteruskan,” tuturnya.
Karena impiannya itu. Wildan berhasil memelopori bawang goreng dengan merek Bawang Goreng Sae sebagai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Bojonegoro. Tidak berjalan sendiri, kini ia berhasil memiliki sebelas anggota yang turut berpartisipasi.
’’Alhamdulillah. produk kami bisa terjual hingga luar pulau. Tepatnya. Kaltim (Kalimantan Timur). Di Jawa juga ada. tapi skalanya lebih besar di Kaltim,” ujarnya. Dia menambahkan, dalam memproduksi bawang goreng juga melibatkan kerja sama dengan petani lokal.
Jadi, saat panen dan harga turun biasa dijual di pihaknya. Ia pun berhasil memproduksi setiap hari. ’’Kalau pembeda mungkin sama saja dengan bawang goreng lain. Tapi, produk kami ada sedikit keunikan, bisa bertahan empat bulan tanpa bahan pengawet,” imbuh dia.
Wildan mengaku, ada teknik tersendiri untuk mempertahankan bawang goreng olahannya. Caranya pun ia raih secara otodidak alias tidak mengikuti kelas usaha atau pelatihan tertentu. ’’Belajar dari bapak terus juga dari online. Jadi, otodidak sih,” katanya.
Alumni SMAN 1 Bubulan itu mengungkapkan, tak jarang menemui tantangan. Dari sebelumnya, ketersediaan bahan baku hingga pemasaran. Namun, sedikit demi sedikit, kata dia, mulai teratasi. Seperti menjalin kemitraan dengan distributor.
’’Sebenarnya juga ada medsos (media sosial) dan e-commerce, tapi masih merintis. Karena kami melayani yang offline juga agak kewalahan. Karena kami sudah ada pasarnya juga. Mungkin selanjutnya buka di online,” pungkas Juara 1 Bidang Kewirausahaan Pemuda Pelopor Bojonegoro itu. (*/bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko