Bagus Adi Prayogo dikenal aktif kegiatan lingkungan. Pemuda asal Desa Butoh, Kecamatan Ngasem ini salah satu korban kecelakaan laut saat menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Maluku Tenggara.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro
SEMILIR angin sore Desa Butoh, Kecamatan Ngasem, tak bisa menutupi wajah gelisah menanti datangnya pemuda desa yang dikenal santun dan penuh semangat, yakni Bagus Adi Prayogo.
Pemuda 21 tahun itu sebelumnya sempat dilaporkan hilang setelah perahu yang ditumpangi bersama rekan-rekan KKN terbalik di perairan Debut, Maluku Tenggara pada Selasa (1/7).
Rombongan terdiri tujuh mahasiswa dan lima warga setempat itu, baru saja menyelesaikan aktivitas pengambilan pasir dari Pulau Wahru dalam upaya revitalisasi terumbu karang. Namun takdir berkata lain, di tengah perjalanan pulang, angin kencang dari samping menggulung ombak.
Perahu longboat yang mereka tumpangi oleng dan terbalik. Lima mahasiswa dan seorang warga berhasil selamat, begitu pula sang nahkoda.
Tapi dua nama tak seberuntung lainnya, Septian Eka Rahmadi, meninggal setelah sempat dilarikan ke RSUD Karel Sadsuitubun, dan Bagus Adi, sempat hilang sebelum ditemukan meninggal dunia di sekitar Pulau Wahru, pukul 11.15 WIT, Rabu pagi (2/7). Kabar duka itu sontak mengguncang keluarga Bagus di Bojonegoro.
Di rumah sederhana di RT 009 RW 002 Desa Butoh, Kecamatan Ngasem, ayahnya yakni Lasman, dan ibunya, Santi, menahan tangis saat warga berdatangan takziah. “Keluarga dan pihak desa sudah berangkat menjemput di Bandara Juanda,” tutur Lasman sekitar pukul 11.00 kemarin (2/7).
Kepala Desa Butoh Edy Santoso yang mendampingi keluarga sejak menerima kabar duka menyampaikan, bahwa Bagus, sapaan korban, menjadi kebanggaan desa karena semangatnya dalam menempuh pendidikan tinggi. “Rencananya jenazah akan tiba di Bandara Juanda sekitar pukul lima sore,” imbuhnya.
Tragedi ini menyisakan luka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi civitas akademika UGM. Direktur Pengabdian kepada Masyarakat (DPKM) UGM Rustamadji, turut berbelasungkawa setelah kembali kehilangan mahasiswanya, yang dikenal peduli terhadap lingkungan.
“Kami sangat kehilangan. Bagus adalah mahasiswa yang aktif, peduli terhadap lingkungan, dan menunjukkan dedikasi tinggi dalam setiap kegiatan pengabdian,” terangnya.
Duka ini pun mendapat perhatian dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro. Kepala Seksi Kegawatdaruratan dan Logistik Agus Purnomo menyebutkan, bahwa pihaknya langsung berkoordinasi dengan Basarnas Ambon untuk memastikan proses evakuasi berjalan lancar hingga Bojonegoro. (dan/msu)