Sejak terbitnya peraturan kewajiban aparatur sipil negara (ASN) di lingkup Pemkab Bojonegoro mengenakan batik motif obor sewu, warga di kampung Samin Desa/ Kecamatan Margomulyo sibuk produksi.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
JEJAK ajaran Samin Surosentiko tergambar rapi dalam helai kain bermotif Obor Sewu. Bukan sekadar gambar, motif ini merupakan pitutur dari leluhur Samin Surosentiko di Dusun Jipang, Desa/Kecamatan Margomulyo.
Terabadikan dengan begitu apik. Menjadi produk yang kini telah ber-Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) yang dimiliki Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Sugeng Wardoyo.
Dosen yang di akhir disertasinya melakukan sidang terbuka dengan lesehan di Balai Budaya Masyarakat Samin, dihadiri oleh para profesor penguji sekaligus 2 rektor, yakni dari ISI Yogyakarta dan ISI Surakarta pada akhir 2023 lalu. Mempersembahkan motif Obor Sewu untuk masyarakat Samin di Margomulyo. Membuat motif ini secara eksklusif hanya bisa diproduksi oleh warga Samin.
Namun, Penerus Ajaran Samin atau Sedulur Sikep Bambang Sutrisno memersilakan apabila ada perajin lain ingin turut memproduksi batik motif Obor Sewu. Namun, proses produksi harus dilaksanakan di Kecamatan Margomulyo.
Menurut Bambang, mulai 2019 masyarakat Samin mulai memproduksi udeng Obor Sewu. Setiap terselenggaranya Festival Samin, udeng Obor Sewu ini juga dibagikan secara gratis untuk masyarakat.
Baca Juga: Inilah Nilai dan Makna Dibalik Motif Obor Sewu
Kemudian, meluas ketika 2024 terdapat kebijakan bahwa ASN maupun Non ASN di lingkup Pemkab Bojonegoro wajib menggunakan udeng Obor Sewu setiap hari Rabu. Dan, tahun ini terdapat kebijakan untuk penggunaan PDH Adat Obor Sewu oleh seluruh ASN maupun Non ASN di lingkup Pemkab Bojonegoro.
“Dengan penggunaan PDH Adat ini, cita-cita para pemerhati Samin, termasuk Dosen-Dosen ISI Yogyakarta terkabul. Bahwa desain ini bisa diterima masyarakat,” ujarnya.
Motif Obor Sewu tidak lahir dari tangan-tangan ahli semata. Anak-anak SMA dan SMK ikut terlibat saat liburan, ibu-ibu dan generasi muda turun tangan selepas bertani.
Malam hari, setelah lelah di ladang, mereka duduk bersama, belajar bareng. Tak semuanya indah dan rapi, tapi semuanya tulus dan nyata.
“Belajar bareng, meski hasilnya belum seperti pengrajin batik di Bojonegoro,” lanjutnya.
Dia mengaku, belajar membatik secara otodidak. Bermula dari ada program KKN di dusunnya. Kemudian, turut belajar bersama dalam proses membatik. Bahkan, cap untuk membatik membuat sendiri dari bahan dasar kertas.
“Pituture Mbah Kung, apa yang kita inginkan, kita lihat, kita pelajari, pasti bisa. Prinsip itu kami terapkan. Seperti yang dicontohkan Mbah Harjo Kardi, beliau tidak sekolah sama sekali, tapi bisa membuat gamelan pelog slendro,” ujarnya.
Menjelang Festival Samin 2025 pada 5 Juli mendatang, batik Obor Sewu kembali akan dibagikan sebagai souvenir. Bukan untuk diperjualbelikan, melainkan untuk dikenang, dipakai, dan dipahami. Karena nilai, seperti obor, tak pernah padam jika dijaga bersama. (ewi/msu)