Mimpi menjadi semangat tersendiri bagi Sovia Linda Sari. Gadis 18 tahun tersebut bermimpi menjadi pesilat Indonesia yang harum di kancah Internasional. Prestasi tingkat Provinsi hingga Nasional yang berhasil diraih menjadi modal akan semangat dan perjuangannya.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
GERAKAN silat tertampilkan begitu memikat dari Sovia Linda Sari. Tiap sapuan udara seolah mengandung doa. Dengan tekad pada tiap hentakan kakinya. Semua mengalir dengan pasti. Tidak hanya menampilkan kemampuannya dengan ahli. Gadis 18 tahun tersebut juga membuktikan kualitasnya melalui prestasi di tingkat Provinsi hingga Nasional.
Di antaranya, sukses meraih Juara 1 Seni Tunggal Putri pada Dandim Cup Kota Malang Tingkat Nasional. Juga, peraih Juara 1 Seni Tunggal Putri dalam Kejuaraan Daerah Pagar Nusa Tingkat Provinsi.
Sovia mulai mengikuti pencak silat sejak kelas 10 SMK. Kemudian, memberanikan diri untuk mengikuti lomba pertamanya. Yakni, di kategori fighter kelas A di Universitas Nahdatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro. Sejak itu, kecintaannya pada dunia silat terus tumbuh dan berkembang.
’’(Alasan memilih silat) Karena melihat gerakan yang sangat menari bagiku pada waktu kecil,” kata Mahasiswa Universitas Bojonegoro (Unigoro) tersebut. Tidak melulu soal podium, Sovia mendapat banyak hal lainnya dalam mendalami dunia pencak silat.
Salah satunya, tentang arti kebersamaan. Menang kalah merupakan hal biasa dalam sebuah kompetisi. Senang jika menang dan sedih saat tidak berhasil membawa pulang juara. Begitu pula yang dirasakannya. Namun, ada kesedihan yang menurutnya paling menjadi duka saat kompetisi. Yakni, ketika kalah dengan durasi yang kurang maupun lebih.
’’Dalam pencak silat diajarkan untuk selalu menjaga kekompakan dalam tim jika bertanding. Bersyukur dalam melihat setiap proses yang dijalani. Kalimat yang selalu kami dengar dari pelatih, menang kalah itu biasa, jadikan pelajaran dengan apapun hasilnya,” bebernya.
Mimpi besar Sovia di dunia pencak silat menjadi semangat tersendiri baginya untuk terus melangkah ke depan. Melewati setiap halang dan rintang dengan penuh kepercayaan. Perempuan asal Desa Kaliombo, Kecamatan Purwosari tersebut siap melangkah menuju gelanggang dunia yang lebih besar.
Baginya, pencak silat bukan hanya sekadar olahraga. Melainkan bahasa tubuh yang mengajarkan arti ketekunan, keikhlasan, semangat perjuangan, dan impiannya. Mimpi besar tengah dirajutnya saat ini. Yakni, ingin menjadi pesilat perempuan Indonesia yang harum di kancah dunia. ’’Tujuannya ingin menjadi pemain di ajang Internasional seperti Puspa Arum Sari,” harapnya. (ewi/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana