Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Kampung Perajin Ledre di Desa Gapluk, Kecamatan Purwosari: Dari Ledre Menelurkan Lulusan S-2

Yuan Edo Ramadhana • Kamis, 22 Mei 2025 | 19:03 WIB
KHAS BOJONEGORO: Warga Desa Gapluk membuat di dapurnya dengan alat sederhana. (DHANI WAHYU ALFIANSYAH/RADAR BOJONEGORO)
KHAS BOJONEGORO: Warga Desa Gapluk membuat di dapurnya dengan alat sederhana. (DHANI WAHYU ALFIANSYAH/RADAR BOJONEGORO)

 

Perempuan di Desa Gapluk, Kecamatan Purwosari terus berkontribusi untuk mendongkrak ekonomi. Salah satunya dengan memproduksi Ledre.


DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro


TANGAN kanan Karomah tampak cekatan menahan panasnya wajan pemanggangan. Bermodalkan sutil kecil dan tangan kosong, ibu rumah tangga di Desa Gapluk, Kecamatan Purwosari membentuk adonan dan pisang raja menjadi camilan Ledre. Aktivitas itu, telah berlangsung  sekitar 30 tahun terakhir.

Meski Ledre lebih familiar di Kecamatan Padangan. Ternyata, pusat Ledre di Desa Gapluk, Kecamatan Purwosari, menjadi penopang produksi ledre yang dijalankan lebih dari 100 ibu-ibu.

‘’Setiap orang membuat sampai 300 gelintir per harinya,” cerita Karomah, perajin Ledre asal Desa Gapluk, Kecamatan Purwosari.

Perempuan kelahiran 1976 itu menceritakan, bahwa ledre sudah menemaninya jatuh bangun untuk mencukupi kebutuhan hidup, sejak mulai belajar membuat Ledre sejak 1998. Bahkan, mulai dari menjadi penerima bantuan PKH, hingga bisa menyekolahkan anaknya sampai S-2.

‘’Di sini sebagian besar kerjanya petani, tapi hanya panen sekali karena kesulitan air. Akhirnya, ibu-ibu mencari cara bagaimana punya penghasilan lain,” ungkapnya.

Dayung bersambut, ada empat penguasaha Ledre di Kecamatan Padangan, yang bisa bekerja sama untuk memasarkan camilan Ledre. ‘’Karena di sana (Padangan) lebih ramai jalannya, kalau dijual di sini (Purwosari) sepi,” imbuh Karomah.

Namun, perempuan yang juga guru ngaji itu, mulai belajar memasarkan dan mem-branding Ledre, bahkan bercita-cita membuat desanya menjadi pusat atau kampung Ledre.

Meski sejak ada sekitar 1995 hingga saat ini, para perajin Ledre di Desa Gapluk belum pernah terbentuk kelompok usaha.

Sementara itu, Ernawati, perajin Ledre lainnya asal Desa Gapluk menceritakan, bahwa Ledre yang dibuatnya memang masih memertahankan ciri khas tradisional atau tanpa menggunakan mesin. ‘’Dulu pernah dibelikan mesin (oleh pengusaha), tapi malah tidak terpakai karena menurut kami ya lebih enak dan mudah di wojo (wajan tebal tempat pembuatan Ledre),” ungkapnya.

Meski permintaan Ledre tak setenar dulu, namun dirinya dan sekitar 25 rumah perajin Ledre memilih tetap bertahan di era gempuran makanan baru. Disadarinya, bahwa perubahan selera anak muda lebih memilih jajanan modern. ‘’Dulu rame-ramenya ya sekitar awal 2000 an,” ungkapnya.

Namun, ia percaya bahwa makanan yang menjadi ciri khas Bojonegoro itu, bisa bangkit kembali. (dan/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#pkh #Perempuan #Perajin #rumah produksi #Padangan #ibu rumah tangga #Ekonomi #bojonegoro #pisang raja #purwosari #Makanan #ledre #pisang