Komunitas lari Bojonegoro Running Home (BRH) baru terbentuk 2024 lalu, selian berolahrga, juga menggali potensi desa.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro
AKTIVITAS di kota semakin padat, sebuah komunitas lari di Bojonegoro memilih melipir ke desa-desa. Tak hanya sekadar memacu jantung dan memompa keringat dengan berolahraga, juga ingin mengenalkan potensi desa.
Sejak mulai melakukan aksinya pada Juli 2024 lalu, belasan pehobi lari tersebut mulai berkumpul di GOR Utama Bojonegoro, Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander. Lokasi yang lebih banyak melalui area persawahan itu, jadi tempat ideal karena tak hanya menyehatkan raga, namun juga menyejukan jiwa.
Setelah itu, para pehobi lari mulai bertambah. Hingga rutin melakukan kegiatan setiap akhir pekan. Mulai dari desa di Kecamatan Kapas, Sukosewu, Trucuk, Ngasem, Gayam, dan desa-desa lainnya.
‘’Seperti di Kecamatan Trucuk disuguhi banyak lahan hijau pertanian, sampai di (Desa) Sumberarum, (Kecamatan) Dander dengan pemandangan sejuk dan adanya sumber air yang alami,” ungkap Tony Kennzy, salah satu inisiator BRH.
Tak hanya berusaha menjalani hidup sehat, rerata anggota merasa senang bisa melihat beragam potensi di desa. Sebab, hampir semua lokasi wisata populer di Bojonegoro pernah digunakan sabagai arena lari.
‘’Pada awal tahun ini, BRH ikut trail run di Gunung Pandan,” imbuhnya.
Menurutnya, selain menjalani hobi dan mengenalkan potensi desa, aktivitas tersebut juga bisa meningkatkan roda ekonomi di setiap tempat yang dikunjungi.
‘’Karena budaya kita setelah lari, biasanya makan,” ceritanya.
Pria yang bekerja sebagai desainer interior itu menambahkan, bahwa BRH dibentuk tak hanya mengampanyekan olahraga dan hidup sehat saja. Namun, juga mengeksplorasi potensi yang ada di Kabupaten Bojonegoro. (dan/msu)