Fasilitas minim tak menghambat Akhmad Dwi Kurniawan mengantarkan atlet Bojonegoro meraih prestasi di tingkat provinsi.
IRVAN RAMADHAN, Bojonegoro
PERJUANGAN Akhmad Dwi Kurniawan dalam mengenalkan dan mengembangkan cabang olahraga (cabor) Woodball bisa dibilang luar biasa. Terlebih woodball termasuk olahraga baru dan belum banyak orang tahu.
Sejak 2019 sebelum menjadi pelatih, Waw sapaan akrabnya sudah mengikut kejuaraan daerah woodball Jawa Timur series pertama. Ketika itu pelatih asal Desa Duyungan, Kecamatan Sukosewu tersebut berhasil mendapat juara 1 single stroke dan juara 3 team stroke.
‘’Tetapi saat itu tim woodball di Bojonegoro belum terbentuk, masih ikut tim woodball Tuban. Terlebih kegiatan selain di Woodball guru PJOK di UPT SD Negeri Prambontergayang 2 Kecamatan Soko, Tuban,” ungkap pelatih berusia 37 tahun tersebut.
Kemudian pada 2020 Waw bersama pegiat woodball lainnya mengajukan cabor tersebut untuk diakui KONI Bojonegoro, tapi belum disetujui. Sementara 2022 karir melatih Woodball dimulai. Saat itu di Jawa Timur akan ada Jatim Series 3 di Bangkalan Madura.
Waw diberi kesempatan untuk melatih beberapa siswa di Bojonegoro untuk dipersiapkan dalam kejuaraan daerah tersebut. Hasilnya pada kejuaraan pertama membawa nama Bojonegoro mendapat satu medali perunggu di nomor doubel fairway.
‘’Sejak kejuaraan daerah itu, tim Bojonegoro terbentuk dan rutin latihan di lapangan SMA MT Bojonegoro,” jelas guru PJOK tersebut.
Waw sebagai pelatih yang sekaligus babat atau membuka jalan untuk woodball banyak suka dukanya. Kebahagiaan dirasakan karena dasarnya suka olahraga dan mencintai Woodball. Terlebih bisa bermain sekaligus melatih anak-anak menjadi kebahagiaan tersendiri.'
Namun dukanya tentu ada, terlebih baru di Bojonegoro alat sangat minim. Lapangan harus mengalah dengan anak-anak sepak bola. Sehingga harus berlatih di belakang gawang atau di samping kanan kiri lapangan.
‘’Ketika rumput sudah panjang semakin susah berlatih. Untungnya tahun ini cabor woodball sudah diakui keluarga besar KONI Bojonegoro. Sehingga membuka peluang agar alat semakin lengkap ke depannya,” harap pelatih berlisensi tingkat provinsi tersebut.
Menurut Waw, woodball adalah olahraga yang butuh konsentrasi dan daya tahan. Olahraga tersebut mirip golf. Namun, sesuai namanya alat menggunakan kayu, lubang diganti dengan gate (gawang).
‘’Saat bermain di kejuaraan harus memasukkan bola pada 24 lapangan yang berbeda,” jelasnya.
Waw menilai potensi prestasi di woodball sangat tinggi, karena masih jarang yang menekuni. Sejauh ini sejak 2022 hingga 2024, ketika atlet Bojonegoro mengikuti kejuaraan di provinsi selalu pulang membawa medali.
Sedangkan di tingkat nasional woodball Sudah dipertandingkan pada PON. Pada tingkat internasional woodball akan dipertandingkan pada Sea Games.
‘’Harapan saya ke depan atlet asal Kota Ledre ada yang menjadi atlet nasional dengan prestasi yang membanggakan dan mengharumkan nama Bojonegoro,” harapnya. (irv/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana