Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mia Rahmawati Ikaputri, Influencer Asal Sugihwaras Tinggal di Austria: Rintis Bisnis Kecantikan di Eropa Tengah, Selalu Kangen Tempe Khas Bojonegoro

Hakam Alghivari • Senin, 14 April 2025 | 22:00 WIB

 

HARMONIS: Mia Rahmawati Ikaputri foto bersama suami asal Austria bernama Martin Fellner dan kedua anaknya.
HARMONIS: Mia Rahmawati Ikaputri foto bersama suami asal Austria bernama Martin Fellner dan kedua anaknya.

Membangun usaha khususnya di negara luar tidak semudah di Indonesia. Ini membuat Mia Rahmawati Ikaputri, influencer kelahiran Kecamatan Sugihwaras bangga sekaligus tak menyangka. Banyak didatangi customer bule Austria.

YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro


SENYUM merekah terpancar dari raut wajah sosok perempuan tangguh dan mandiri kelahiran Kecamatan Sugihwaras saat ditemui di lobi Eastern Hotel Bojonegoro sekitar H-7 Lebaran lalu.

Berjalan bersama suami dan anak perempuannya menghampiri tim Jawa Pos Radar Bojonegoro. Hingga akhirnya, duduk bersama dan mulai bercerita kisah perjalanannya. Penuh inspirasi dan bisa memotivasi para puan di luar sana.

Berdaya hingga mampu bertahan hidup di negeri yang jauh. Tidak hanya fokus menjadi ibu rumah tangga, ibu bagi anak-anaknya, tapi juga berhasil membangun bisnis baru bidang kecantikan untuk diri sendiri dan keluarga.

Mia Rahmawati Ikaputri namanya, ia kini sudah tinggal sekitar empat tahun di Austria. Membangun rumah tangga dan memulai usaha di sana. Dalam satu kesempatan, perempuan memiliki nama panggung Mia Rikaputri itu bercerita.

Awalnya, juga tidak menyangka bisa menetap di Austria. Berangkat dari diperistri orang dari negara di Eropa Tengah bernama Martin Fellner pada 2022 lalu. ’’Ketemu sama suami tidak sengaja di aplikasi online. Waktu itu, aku enggak tahu cara mainnya, akhirnya aku buat lokasi di Austria dan disapa dia yang sekarang jadi suami,” ucapnya.

Meski awalnya dikira orang Autria, dia mengatakan kalau dari Indonesia. Hingga komunikasi terus berjalan dan intensif selama dua minggu. Sampai ada ketertarikan antarkeduanya. ’’Komunikasi kayak video call juga dan dia bilang mau ke Indonesia. Dia juga tanya kalau aku muslim, apa kalau nikah pindah kepercayaan. Ya aku jawab kalau nikah kan membangun rumah tangga, aku inginnya kepercayaan yang sama. Akhirnya, dia jadi mualaf,” tuturnya.

Ibu dua anak itu melanjutkan, saat memulai hidup baru sudah memiliki bayangan ke depan. Di antaranya ingin tetap fokus dan membersamai perkembangan anak, tapi juga tetap mendapat pemasukan. Hingga akhirnya, memutuskan membuka usaha.

Tentu tidak instan. Banyak proses yang harus dilalui. Dari mengikuti pelatihan jenis usahanya sampai mengurus izin usaha. ;’Kalau di sini (Indonesia) kan gampang. Ada uang, ikut kursus bisa buka. Kalau di sana harus kursus dulu beberapa pertemuan. Bisa satu pertemuan dari pagi sampai sore dan istirahat sekitar 15 menit,” katanya.

Tak tanggung-tanggung untuk mendapatkan sertifikat keahlian usaha bisa menghabiskan sekitar Rp 26 juta. Belum termasuk peralatan membuka usaha seperti meja. Bahkan, ia mengaku tak menyangka telah memiliki izin usaha atas namanya.

Karena itu pencapaian luar biasa. Terlebih di negara yang bukan tempat kelahirannya. Usaha yang dibuka pun cukup menarik, yakni di bidang kecantikan. Seperti nail art dan eyelash. Meski baru buka sekitar setahun, usaha digelutinya cukup menarik banyak minat orang di sana.

Terbukti banyak pelanggan mencoba kepiawaiannya. Bahkan, anak remaja seusia sekolah menengah atas (SMA). Namun, dia mengaku, promosi melalui brosur tidak semudah di Indonesia. Hanya bisa ditempel di super market dan promosi via media sosial (medsos) serta mulut ke mulut.

’’Karena enggak semua tempat bisa diberi advertisement (iklan) gitu. Kalau customer aku kebanyakan dari bule Austria sendiri dibanding orang Indonesia yang aku kenal gitu ya,” ucap dia.

Dia menambahkan, lebih fokus pada kalangan usia remaja. Juga, tidak mematok harga mahal karena masih home industry. Menurutnya, hitung-hitung pengenalan usaha. ’’Kalau orang Austria lebih suka yang ramai gitu sih. Karena ya mengeluarkan uang atau mahal jadi enggak ingin yang biasa,” tuturnya.

Hal menarik lainnya, Mia mengatakan, saat pulang ke Indonesia paling kangen tempe Bojonegoro. Meski tinggal lama di Jakarta, menurutnya lebih enak tempe Bojonegoro. Juga, pecel di daerah rumah Kecamatan Sugihwaras. Karena ada rasa pedasnya. ’’Kalau suami suka makanan Indonesia itu gado-gado dan rendang,” pungkasnya. (yna/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#bule #austria #Bisnis #kecantikan #bojonegoro #Sugihwaras #influencer