Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Viola Sefrinda Sacarosa, Mahasiswa Berprestasi dari Kecamatan Kapas: Raih Beasiswa Luar Negeri setelah Sepuluh Kali Ditolak Perguruan Tinggi

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 6 April 2025 | 20:00 WIB
PEREMPUAN HEBAT: Viola Sefrinda Sacarosa mendapat beasiswa luar negeri. Pendidikan di Malaysia, Thailand, dan Papua. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
PEREMPUAN HEBAT: Viola Sefrinda Sacarosa mendapat beasiswa luar negeri. Pendidikan di Malaysia, Thailand, dan Papua. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

 

Ambisi Viola Sefrinda Sacarosa cukup tinggi. Tak gentar meski sepuluh kali ditolak perguruan tinggi, hingga akhirnya mendapat beasiswa di luar negeri.


YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro


STIGMA pembatasan gerak perempuan berdalih tradisi masih langgeng hingga sekarang. Viola Sefrinda Sacarosa menilainya harus diubah, terutama peran dan hak perempuan.

Perempuan asal Desa Kedaton, Kecamatan Kapas ini menilai masih banyak perempuan dianggap harus di rumah mengurus keluarga dan seakan dilarang bermimpi.

Karena merasa tidak sepakat dan merasa bisa lebih, perempuan kerap disapa Viola itu bertekad meraih ilmu seting-tingginya. Juga, merantau mengejar pengalaman baru. ‘’Dari itu suatu hari nanti saya ingin menjadi pemimpin yang bisa membawa perubahan,’’ tuturnya.

Dari tekat itu, dia bercerita selalu mendapat juara kelas di sekolah sejak sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Menurutnya, ambisi itu berasal dari dorongan orang tua. Yang selalu menanamkan motivasi cita-cita dari sejak belia. Baik ranah akademik maupun nonakademik.

Viola sudah aktif mengikuti olimpiade semasa SD, SMP, dan SMA. Terutama bidang ilmu pengetahuan alam (IPA) dan biologi khususnya. Dari situlah timbul keinginannya menjadi seorang dokter. Hingga mencoba mendaftar di beberapa perguruan tinggi. Tentu ini bukan hal yang mudah.

‘’Enam kali memperjuangkan kedokteran bukan hal mudah. Saya tidak lolos. Akhirnya juga mencoba kedinasan dan penerbangan. Kegagalan itu terjadi selama tiga bulan. Jadi, selama itu sepuluh kali gagal,’’ tuturnya.

Namun, kata perempuan 23 tahun itu, kegagalannya tidak menjadi suatu penghalang tetap maju. Banyak pelajaran yang bisa diambil. Hingga akhirnya kini ia sudah berada di semeter akhir Jurusan Biologi Universitas Negeri Malang (UNM). ‘’Didikan orang tua saya keras. Membuat saya seperti ini. Tidak menjadi wanita lemah dan mudah menyerah,’’ ucapnya.

Dari banyak kegagalan menyisakan kelapangan dada dan pasrah. Akhirnya pilihan orang tua menjadi pemenangnya, yakni berprofesi sebagai guru. Meski awalnya terpaksa namun kini ia menyadari rencana dan pilihan tuhan itu lebih baik.

Dia bersyukur pendidikan diberikan orang tuanya berhasil mendidik menjadi perempuan tegas, berani bermimpi besar, dan pantang menyerah. Banyak prestasi diraihnya. Dari terpilih menjadi penari dari Bojonegoro di Jakarta dalam rangka HUT RI ke-74 tahun.

Juga, menjadi Top 5 Finalist of Infographic Innovation Competition in Gen Z Go Vote Competition, mendapat kesempatan mengajar di SMA Thursina Internaional Islamic, hingga mendapat beasiswa luar negeri. Pendidikan di Malaysia, Thailand, dan Papua.

‘’Kalau aku gagal masuk kampus yang aku impikan berarti harus jadi mahasiswa berprestasi di kampus yang aku dapat,’’ terangnya.

Kini Viola juga memperjuangkan hak perempuan, membuktikan kepemimpinan bukan hanya gender. Tapi, soal keberanian, kerja keras, dan visi untuk membawa perubahan. ‘’Saya masih terus melangkah dan membangun jalan sendiri. Bukti gadis desa pun bisa jadi pemimpin,’’ tuturnya. (yna/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#hak perempuan #kapas #dokter #kedokteran #juara kelas #unm #beasiswa #universitas negeri malang #bojonegoro #Luar Negeri #beasiswa luar negeri