Menjelang Tahfidz Quran Radar Bojonegoro 2025, Al-Ghumaisha Khaira Wilda sempat sakit dan istirahat murajaah.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
LANTUNAN Alquran terdengar merdu terucap dihadapan dewan juri. Disaksikan seluruh orang tua pendamping dan para finalis. Al-Ghumaisha Khaira Wilda mampu melanjutkan potongan ayat yang dibacakan oleh juri dalam kompetisi Tahfidz Quran Radar Bojonegoro 2025 dengan baik.
‘’Alhamdulillah, senang mendapat juara harapan 1,’’ kata anak 9 tahun tersebut.
Berbagai persiapan dilakukan Wilda dalam mengikuti kompetisi Tahfidz Quran yang diikuti oleh peserta dari Kabupaten Bojonegoro, Lamongan, dan Tuban tersebut.
Siswa kelas 3 MIN 2 Tuban ini sudah aktif latihan sekitar satu sebelum menjalani lomba tahunan yang dilaksanakan oleh Jawa Pos Radar Bojonegoro.
‘’Proses menghafal juz 30 sudah mulai dari usia 4 tahun,’’ bebernya.
Motivasi dari orang-orang terdekat menjadi semangatnya untuk terus memberikan yang terbaik. Tiada lelah, Wilda terus bersemangat untuk murajaah.
Dia belajar bersama Abi dan Uminya ketika di rumah. Sedangkan, jika di pondok belajar Alquran bersama dengan Ummah selaku pengasuh dari Pondok Pesantren Al Mustawa Prambontergayang, Tuban.
Wilda semakin aktif berlatih menjelang lomba. Bahkan, selalu murajaah hafalan dan latihan setiap pulang ngaji bersama Ummah. Kemudian, setelah magrib, lanjut latihan bersama orang tua di rumah.
Materi hingga mental disiapkan dengan baik. Tidak ada seharipun ia lewati tanpa berlatih. Meski hanya sekitar 15 hingga 30 menit.
‘’Alhamdulillah, selalu mendapat motivasi dari Abi, Ummi, kakak, Ummah, semua guru, dan teman-teman,’’ ujarnya.
Meski terkadang merasa lelah saat latihan karena sudah full kegiatan setiap harinya. Mulai dari sekolah, kemudian mengaji saat sore hari, dan lanjut belajar setelah habis magrib. Namun, Wilda tidak menyerah.
Bahkan, ujian datang menjelang lomba. Yakni, sakit demam berdarah selama 21 hari. Sempat muncul rasa tidak percaya diri untuk melanjutkan kompetisi ini. Terlebih, ketika sakit, tidak murajaah hafalan, khawatir banyak yang lupa. Namun, lagi-lagi, motivasi membuatnya bangkit kembali.
Membawanya kembali membulatkan tekad untuk melanjutkan lomba dan sukses meraih Juara Harapan 1.
‘’Semoga bisa benar-benar menjadi hafidzah kelak. Membanggakan orang tua dan mendapat ilmu barokah serta manfaat,’’ harap gadis kecil asal Soko, Tuban tersebut. (ewi/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana