Ketertarikan olahraga combat (tarung) telah meluas di seluruh dunia, tak terkecuali di Bojonegoro. Bahkan, sebuah sasana latihan yang baru berdiri 7 bulan lalu itu, bisa mengorbitkan bakat-bakat bela diri pemuda Bojonegoro.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro
"Uppercut!" teriakan yang diiringi pukulan-pukulan itu, terdengar dari sebuah gedung olahraga di Desa Mojodeso, Kecamatan Kapas. Meski tak terlalu luas atau hanya berukuran 8x20 meter, namun terdapat puluhan remaja hingga anak-anak yang saban harinya berpeluh keringat untuk berlatih.
Fight camp yang baru beridiri pada Juni 2024 lalu itu, memantik minat muda-mudi di Bojonegoro akan olahraga tarung. Tak hanya bagi yang mulai belajar dari nol, namun juga bagi yang telah memiliki dasar dari berbagai perguruan silat.
‘’Karena kita lihat di Bojonegoro ini banyak sekali peminat silat, kami mencoba memberikan wadah combat sport,” ungkap pendiri Sangsaga Fight Camp Aristo Sugianto.
Menurutnya, potensi pemuda di Bojonegoro ini sangatlah besar, dan hal itu tidak boleh disia-siakan.‘’Kalau tidak ada wadah, yang terjadi mereka melampiaskan itu di jalanan. Setidaknya ini bisa mengurangi tawuran,” imbuhnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.
Aristo percaya, bakat-bakat petarung di Bojonegoro ini besar, hal itu dibuktikan hanya dalam kurun waktu 6 bulan.Para membernya telah menyabet medali emas di kejuaraan provinsi, Baku Hantam Championship, hingga kejuaraan Kyokushinkai Super Fight SLC CUP 2025 Road To Hongkong.
Tak tanggung-tanggung, hampir seluruh kejuaraan yang diikuti, para anggota Sangsaga Fight Camp bisa meraih peringkat tertinggi.
‘’Hampir setiap kompetisi yang kita terjuni, kita bisa mencetak emas,” terang pria asli Bojonegoro itu.
Menurutnya, meski baru 6 bulan menjalani latihan tepat sejak berdirinya camp tersebut, namun kunci prestasi yang diraih tak hanya bakat, namun juga intensitas latihan yang tinggi.
Hingga saat ini, sudah terdapat lebih dari 100 anggota, dengan kelas cabang olahraga meliputi muaythai, sambo, boxing, dan MMA. Seluruh cabor tersebut, dan seluruhnya memiliki pelatih masing-masing.
‘’Yang memiliki basic silat, kita bebas saja. Siapa pun bisa gabung yang memiliki minat di olahraga tarung,” ceritanya.
Meski anggotanya telah meraih prestasi hingga berangkat ke kejuaraan dunia, salah satunya di Hongkong. Namun, tak membuatnya berpuas diri. Latihan-latihan keras pun tetap berjalan. Sebab, cita-cita besar Aristo adalah membuat Combat Sport di Bojonegoro mendunia. Sebab, cabang olahraga ini, dirasakannya memiliki masa depan cerah.
‘’Terlebih, combat sport ini di Indonesia menjadi cabang olahraga yang finansialnya tidak kalah dengan sepakbola,” imbuhnya.
Namun, ketertarikannya terjun cukup dalam di dunia tarung ini, bukanlah perjalanan yang singkat. Meski asli Bojonegoro, sempat menjadi atlet wushu saat merantau di Padang, Sumatera Barat.
Insiprasinya, bermula dari film laga yang dilihatnya di layar kaca yakni dibintangi oleh Tony Jaa. Tokoh yang sama-sama lahir di pedesaan. Dari sanalah mulai senang meniru-niru adegan beladiri yang ditontonnya di film tersebut lalu mempraktikkannya. (dan/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana