Decak kagum dan tepuk tangan penonton di gedung kesenian Cak Durasim, Surabaya. Seakan menahbiskan, kesenian sandur masih belum habis. Bahkan, semakin luas diterima.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro.
LANTUNAN tembang pembuka Sandur menggema di gedung pertunjukan Cak Durasim, Kota Surabaya pada 25 Oktober lalu. Kesenian asli Bojonegoro itu, biasanya digelar di area lapangan atau tengah-tengah masyarakat, dengan panggung bernama Blabar Janur Kuning.
Berbeda pada malam itu, Sandur seolah menjadi hiburan mewah, dengan panggung tertutup dan ratusan penonton tampak memenuhi tribun. Namun, tak semua identitas sandur hilang.
Bahkan, masih tampak ublik yang menyala di setiap pojok panggung sebagai ciri khas sandur.
‘’Sandur malam itu, memainkan naskah dengan bahasa Indonesia dan penontonnya juga tidak hanya orang Jawa,” ungkap Oki Dwi Cahyo, Sutradara Sandur Sedhet Srepet.
Menurutnya, saat diberi pilihan naskah, tak mencoba mengubah karya ke dalam bahasa Jawa sesuai identitas Sandur, namun tetap memakai naskah yang ada.
‘’Kalau hanya mengubah dari Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Jawa atau dialek Sandur, tentu banyak yang bisa. Namun, kami mencoba memainkan naskah asli dengan pemaknaan Sandur,” ungkap Oki, sapaanya.
Tak tanggung-tanggung, naskah yang dimainkannya merupakan karya yang sudah melegenda dan banyak dimainkan di kancah teater Surabaya, yakni Grafito karya Akhudiat, yang menceritakan tentang cinta beda agama.
‘’Memang sengaja memilih naskah yang familiar di Surabaya dan kerap dimainkan di sana, ceritanya juga relevan di masa kini,” tegasnya.
Tak disangka, meski memainkan naskah berbahasa Indonesia, dan rerata penonton sudah akrab dengan pertunjukan teater. Namun, aksi pemain Sandur malam itu, justru berhasil mendobrak eksistensi teater tradisi. ‘’Justru banyak yang senang, karena pemaknaan naskah yang sudah melegenda jadi semakin dalam,” imbuhnya.
Diketahui, Sandur Bojonegoro menjadi satu dari penampil terpilih pada Parade Teater Jawa Timur 2024. Keenam teater lainnya meliputi Teater Granggang Ponorogo; Teater Arek Surabaya; Teater Sandur Sedhet Srepet Bojonegoro; Teater Studio Daulang Surabaya; dan Teater Dialektika Sumenep, Madura.
Dari enam grup tersebut, Teater Sandur Sedhet Srepet Bojonegoro menjadi satu kelompok yang mampu menyedot perhatian. Oki juga berharap Pemerintah Daerah Bojonegoro juga mampu memberikan dukungan untuk pelaku seni agar dapat melangkah keluar mengharumkan nama Kabupaten Bojonegoro. (*/msu)
Editor : Hakam Alghivari