Parade sound system kian menjamur di tengah masyarakat Bojonegoro. Sepinya tanggapan di Bulan Suro (penanggalan Jawa), memantik pengusaha sound system mengadakan parade ‘Nguntir Bareng’ setiap tahunnya.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro.
Gelegar suara terdengar dari arah Lapangan Desa Sidobandung, Kecamatan Balen. Suara itu bukan berasal dari resepsi atau hajatan warga setempat.
Tak lain, dari puluhan set sound system yang berjejer rapi di area lapangan desa setempat. Tampak, sekitar 50 meter di depan tumpukan sound bertingkat, terdapat kerumuman operator yang duduk khusuk di bawah tenda.
Suara dan pemandangan tersebut, ternyata sudah berlangsung 7 tahun terakhir. ‘’Kalau di Desa Sidobandung memang setahun sekali mengadakan parade sound system saat bulan Suro. Sekarang (Agustus) sudah mulai berhenti karena sudah banyak orang yang punya hajatan,” ungkap Fahrul, panitia event Nguntir Bareng, di Desa Sidobandung, Kecamatan Balen.
Pria yang juga memiliki usaha Sound System PSN Pro Audio tersebut menceritakan, bahwa kegiatan nguntir bareng tersebut, pertama kali digelar sekitar 2016 lalu.
Bermula dari kekosongan jadwal hajatan saat bulan suro, karena pantangan orang Jawa mengadakan hajatan. Hal itu membuat pengusaha audio mulai berkumpul.
Meski awalnya hanya sekadar tempat berbagi pengalaman, dan tukar ilmu. Namun, kini juga menjadi ajang mengukur kemampuan bagi para pesertanya.
‘’Awal merintis bersama teman-teman. Saat itu saya harus menyambangi (pengusaha audio) satu-satu untuk mencari anggota,’’ kata pria asal Dusun Bungkal, Desa Mayangkawis, Kecamatan Balen tersebut.
Fahrul menambahkan, bahwa tahun ini telah memasuki tahun ke tujuh gelaran parade sound di wilayah Kecamatan Balen. Menurutnya, parade yang bartajuk ‘Nguntir Bareng’ merupakan event yang terbesar bagi pemilik rental sound system.
‘’Kalau di Sidobandung ini memang event kelas besar, jadi dari luar kota banyak yang ikut,’’ ceritanya.
Meski saat pertama merintis masih mengalami keterbatasan dana, dan belum ada sponsor, bahkan harus patungan. Kini, event tersebut menjadi daya tarik bahkan mulai didukung oleh pihak pemerintah desa
Namun, hampir seluruh event parade dilaksanakan di lapangan sepak bola. Sebab, meminimalisir masyarakat yang terganggu dengan suara sound, dan menghindari kemacetan di jalan raya.
‘’Selama ini tidak pernah pawai di jalan raya karena takutnya mengganggu pengguna jalan dan warga, apalagi di sini banyak perumahan padat,’’ imbuhnya.
Meski kali pertama menyebar di wilayah kecamatan Balen, event parade sound system kini merebak di hampir seluruh wilayah di Kabupaten Bojonegoro. Seperti Kecamatan Dander, hingga Tambakrejo.
‘’Memang akhir-akhir mulai ramai parade, khususnya setiap sedang sepi tanggapan,’’ ungkap Totok, salah satu anggota Persatuan Sound Bojonegoro Barat (PSBB).
Ia menyebutkan, selain menjadi ajang bertemunya pemilik rental sound, setiap parade sound selalu ada perlombaan. Sebagian besar event selalu menghadirkan minimal dua kategori lomba. Yakni, mixing dan sound pressure level (SPL). Meliputi adu kulitas audio yang lembut dan tidak pecah, serta tingkatan SPL dari pengeras suara yang ditampilkan. (*/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana