Nasib kesenian Wayang Thengul di ujung tanduk. Belum ada regenerasi. Saat ini, tersisa satu dalang asal Desa Bangowan, Kecamatan Jiken yakni Nurwanto.
RAHUL OSCARRA DUTA, Bojonegoro
ALUNAN musik gamelan yang terdengar di pojok Desa Bangowan, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora kini mulai jarang terdengar oleh warga setempat. Lirih musik yang membersamai pertunjukan Wayang Thengul khas Bangowan itu kini berada di ujung tanduk.
Hampir seratus tahun wayang tersebut menghiasi pagelaran di Kota Sate itu. Sang dalang pun tak pernah berhenti melestarikan kesenian yang mulai ditinggalkan peminatnya. Mbah Nurwanto, menjadi satu-satunya dalang Wayang Thengul yang tersisa di desa wisata tersebut.
Hampir 20 tahun berkiprah di panggung perwayangan. Ia merupakan generasi ke-4. ’’Kula dados dalang niki mpun 20 tahun lebih. (Saya jadi dalang ini sudah 20 tahun lebih. Red). Jadi, sudah lewat banyak zaman. Bayangkan saja, Thengul ini sudah seratus tahun umurnya,” jelasnya
Baca Juga: Lestarikan Kesenian Wayang Thengul
Mbah Nurwanto juga menjelaskan, selain bentuknya yang menjadi khas dari Wayang Thengul ialah birama musiknya atau yang biasa disebut panjak. Hingga kini, panjak tersebut mulai berubah mengikuti keinginan pasar.
’’Dulu panjak atau ketukan musiknya tidak begini. Sekarang diubah. Ciri khasnya thengul ya itu. Jadi pertunjukannya itu rancak atau ramai,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro saat ditemui di Sanggar Budaya Thengul Bangowan beberapa waktu lalu.
Mbah Nurwanto sendiri akui, kesulitan untuk mencari sosok penerusnya. Pria berumur 56 tahun itu merasa generasi yang akan
datang tidak begitu minat. ’’Kula niki nggih merdamel liyane. Njih dados Dalang, Njih tandur (Saya ini juga kerja lainnya. Ya, dalang, juga jadi petani, Red). Sebenarnya bisa-bisa saja anak saya untuk meneruskan. Ning, lare-lare niku dereng minat (Tapi, anak-anak itu belum minat, Red),” jelasnya.
Menurutnya, saat ini jarang acara dinas-dinas yang mengundang untuk mengisi pertunjukan Wayang Thengul. ’’Sampun (sudah, Red) jarang mas. Dulu sebelum covid masih ada. Sakniki mpun jarang(sekarang sudah jarang, Red),” ucapnya.
Walau begitu, sebagai budayawan, ia terus berupaya untuk melestarikan thengul tersebut di generasi-generasi berikutnya dengan caranya sendiri. Terlebih, Desa Wisata Bangowan sendiri mendukung penuh untuk merawat kesenian budaya tersebut.
Baca Juga: Wayang Thengul Rawan Mandul, Tersisa Tiga Perajin dan 13 Dalang
Terpisah, Direktur Pengembangan Destinasi II Kemenparekraf, Bambang Cahyo Murdoko, akui tertarik dengan pertunjukan kesenian Wayang Thengul itu. Menurutnya, potensi wisata desa tersebut bisa jadi daya tarik tersendiri.
’’Desa itu panorama alamnya indah, ditambah lagi budayanya. Ada Wayang Thengul yang ternyata hampir punah. Tapi, tetap dilestarikan dengan cara efektif dari pokdarwis. Jadi, wisatawan tidak hanya nonton saja, tapi juga bisa ikut belajar memainkan jadi dalang. Jadi, itu wujud pelestariannya,” ujarnya. (*/bgs)