Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Muhammad Nashir Abdul Jabbar, Pelopor Kelas Bahasa Isyarat Bojonegoro: Dorong Masyarakat Sadar dan Menghargai Teman Tuli

Yuan Edo Ramadhana • Selasa, 2 Juli 2024 | 21:17 WIB
PELOPOR: Kelas Bahasa Isyarat Bojonegoro (Bisbojo) bergulir sejak Januari lalu. Muhammad Nashir Abdul Jabbar menginisiasi kelas tersebut agar semakin banyak Teman Dengar. (IST/RADAR BOJONEGORO)
PELOPOR: Kelas Bahasa Isyarat Bojonegoro (Bisbojo) bergulir sejak Januari lalu. Muhammad Nashir Abdul Jabbar menginisiasi kelas tersebut agar semakin banyak Teman Dengar. (IST/RADAR BOJONEGORO)

 

Pelayanan publik masih minim dan kesulitan komunikasi dengan Teman Tuli. Ini menjadi atensi lebih Muhammad Nashir Abdul Jabbar pelopor kelas bahasa isyarat Bisbojo (Bahasa Isyarat Bojonegoro).


YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro


KETIMPANGAN sosial masih terjadi dan mudah dirasakan dewasa ini. Salah satunya pelayanan publik yang belum 100 persen inklusif menyentuh hak penyandang disabilitas seperti Teman Tuli. Ini menjadi pekerjaan rumah (PR) pemerintah hingga masyarakat.

Mesiki demikian, telah bermunculan kaum muda yang paham dan mulai menginisiasi gerakan untuk lebih paham dan sadar kesetaraan hak bagi semua pihak tanpa terkecuali yang memiliki keterbatasan fisik.

Seperti pemuda asal Desa Sarangan, Kecamatan Kanor, Mucahmmad Nashir Abdul Jabbar. Pria kerap disapa Dul ini membuat kelas bahasa isyarat sejak Januari lalu. Kelasnya diberi nama Bisbojo (Bahasa Isyarat Bojonegoro).

Dalam satu kesempatan, dia meceritakan awal mula inisiatif membentuk Bisbojo sembari menunjukkan gambar di mana dirinya mengajar bahasa isyarat. Foto itu bak menunjukkan semangat pergerakan untuk lebih maju dan paham pentingnya belajar.

Agar bisa berkomunikasi dengan Teman Tuli dan bukan sekadar formalitas. ’’Ini (Bisbojo, red) terinspirasi dari pengalaman saya saat menjadi guru tuli di kelas isyarat dari Komunitas Akar Tuli Malang. Karena masih banyak yang belum ada akses untuk Teman Tuli,” tuturnya.

Dul melanjutkan, saat ini pasti masyarakat mengetahui pelayanan publik mengalami kesulitan komunikasi dengan teman tuli. Banyak kasus terjadi. Misalnya, surat izin mengemudi (SIM) ditolak karena polisi masih stigma atau berpandangan negatif terhada Teman Tuli.

Padahal, mereka mampu melihat spion dan fisiknya normal secara umum. Beberapa instansi, lanjut dia, kurang akses informasi untuk Teman Tuli. Juga, perusahaan swasta dan pemerintah belum memberi kesempatan Teman Tuli melamar kerja karena stigma.

Sehingga, ia berinisiatif membuka kelas bahasa isyarat. Tujuannya beragam. Di antaranya mendorong sumber daya manusia (SDM) teman dan aktivis tuli lebih baik dari sebelumnya, memaksimalkan akses informasi, dan pelayanan publik serta pendidikan setara.

Hingga, meningkatkan kepekaan dan kesadaran Teman Dengar atau Hearing. Baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. ’’Mekanisme pembelajaran ada levelnya. Level satu dilakukan tujuh kali pertemuan. Pertemuan pertama tentang kesadaran tuli sebelum mulai bahasa isyarat,” terangnya.

Kemudian, lanjut dia, belajar materi yang diajarkan langsung guru tuli. ’’Di sini peserta harus memosisikan sebagai tuli tanpa bicara oral. Seolah lahir sebagai tuli,” imbuh lulusan Universitas Brawijaya (UB) Malang itu.

Dia melanjutkan, setelah kelas level dilalui, akan ada ujian isyarat untuk menentukan kelulusan. Jika lulus akan naik ke level dua. Dul menyampaukan, tantangan yang dihadapi saat ini oleh Bisbojo maupun mayarakat lainnya adalah sifat malas dan mudah menyerah.

’’Harapannya, Teman Tuli lebih percaya diri dan terbuka. Instansi publik memilliki aksesibilitas dan penerjemah isyarat,” harap pemuda 25 tahun itu. (*/bgs)

 

 

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#bahasa isyarat #kaum muda #sdm #sim #universitas brawijaya #pr #bojonegoro #ketimpangan sosial #masyarakat #ub #Teman tuli #stigma