Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Melihat Wisata Petik Melon Greenhouse di Kecamatan Japah, Menginspirasi dan Bisa Diterapkan di Semua Kecamatan

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 30 Juni 2024 | 22:16 WIB
INSPIRATIF: Bupati Blora Arief Rohman (kiri) dan pemilik Agrowisata Girli Farm Adi Latif Mashudi menginspirasi anak muda agar tidak malu bertani atau berternak. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
INSPIRATIF: Bupati Blora Arief Rohman (kiri) dan pemilik Agrowisata Girli Farm Adi Latif Mashudi menginspirasi anak muda agar tidak malu bertani atau berternak. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

 

Atraksi wisata petik buah selalu berikan pengalaman berkesan bagi pengunjung. Salah satu yang wajib dikunjungi, Wisata Petik Melon di Agrowisata Girli Farm di Kecamatan Japah.


RAHUL OSCARRA DUTA, Blora


PERKEBUNAN modern berkonsep greenhouse tanaman melon di Agrowisata Girli Farm saat ini telah memasuki masa panen. Di kebun tersebut, pengunjung bisa memilih dan memetik sendiri buah melon yang akan dibeli.

Ada berbagai varian melon, seperti melon Kirani, Kinanthi, maupun Adinda, yang memiliki rasa nikmat dan cita rasa tersendiri. Pemilik Agrowisata Girli Farm Adi Latif Mashudi menceritakan, dirinya membaca data, bahwa petani milenial setiap tahun mengalami penurunan.

Faktornya adalah persoalan fungsi lahan dan petani itu dianggap kuno. ’’Tapi, bisa disaksikan sendiri bagaimana kami bertani dengan sistem lebih modern dan pakaian saya bisa dikatakan cukup rapi. Bisa dibilang sedikit lebih keren,” ucapnya.

Adi menjelaskan, penjualan terjauh hasil perkebunannya telah dilakukan. Ia pernah kirim ke Cianjur. Bahkan, seharusnya saat panen ini harus kirim ke Bogor dan Jakarta. Namun, karena banyaknya pengunjung yang datang hingga habis.

’’Permintaan banyak, dari Bali juga minta. Tapi, karena sudah habis, kami tidak bisa mengirim. Kebanyakan mintanya varietas sweet net, atau Kirani, atau jenis Intanon," terangnya. Adapun harga rata-rata lokal Blora Rp 30.000 per kilogram. Ada jenis Came, dijual Rp 35.000 per kilogram.

Adi Latif mengaku, saat mendirikan agrowisata miliknya, dirinya merogoh kocek hingga Rp 700 juta lebih. Uang tersebut sama sekali bukan pinjaman. Melainkan hasil jerih payahnya saat kerja di Korea.

’’Saya sudah nyelengi (menabung, Red) modal sejak dulu. Akhirnya, saya dirikan ini. Biaya greenhouse dan lainnya lebih dari Rp 700 juta,” terangnya. Kini, ia berhasil mendirikan dua titik greenhouse.

Dengan dua greenhouse tersebut, dirinya memulai mengembangkan agrowisatanya sebagai petani melon hidroponik. Semua ilmu hidroponik pun ia pelajari secara otodidak sambil berkonsultasi dengan dua rekan mantan kerjanya di Korea yang berkarier sebagai petani.

Ia akui, keputusannya menjadi seorang petani hidroponik itu semakin membuat dirinya maju. Ia menyebut, setidaknya selama masa tanam, kebunnya mampu menampung 2.400 pohon melon dari seluruh greenhouse miliknya.

’’Jadi, masa tanamnya itu sebulan sekali. Dan, panennya satu bulan hingga dua bulan sekali,” jelasnya. Adi berharap, dengan caranya ini bisa menjadi pemantik pertanian di desanya. Terlebih letak desanya jauh dari pusat kota dan akses jalan masih sangat terbatas.

’’Harapannya, bisa menggenjot perekonomian sekitar. Bisa memberdayakan SDM di sini. Sementara, masih ada beberapa warga saya ajak kerja di Girli farm. Ke depannya bisa lebih besar dan nantinya pemuda dan masyarakat di sini bisa merasakan dampak postifnya dari agrowisata ini,” tegasnya.

’’Untuk para teman-teman kita sesama pemuda jangan pernah malu bertani karena kita hidup dan bertahan karena jasa jasa dari para petani,” tambahnya.

Bupati Blora Arief Rohman pun usai melihat dari dekat Agrowisata Girli Farm. Dan, berharap perkebunan modern dengan sistem greenhouse tersebut bisa diterapkan di semua kecamatan yang ada di Blora. 

’’Perkebunan melon modern milik Adi Latif Mashudi ini sangat inovatif,” paparnya. Bupati Arief juga sempatkan berkeliling meninjau kebun greenhouse dan memetik sejumlah buah melon yang sudah siap dipanen. Bahkan, Bupati tampak antusias mencicipi buah melon tersebut.

’’Buahnya sudah kami coba, memang recommended. Buah melon ini hari terakhir untuk dipanen. Beberapa waktu lalu sempat viral, dalam waktu tiga hari ini panen langsung habis. Jadi, untuk yang mau petik melon di Sumberejo harus bersabar menunggu sampai awal Agustus. Sekitar 50 hari lagi ya,” terangnya.

Diketahui, setiap masa panen, pihak Agrowisata Girli Farm menginformasikan melalui media sosial. Hasil panen bisa ludes terjual dalam waktu singkat. Adapun langkah inovatif berkebun dengan konsep greenhouse di wilayah Japah itu bisa diterapkan di sejumlah kecamatan lain yang ada di Blora.

’’Semoga ini menjadi inspirasi ya. Kemarin kami membentuk Komunitas Petani Milenial. Ketuanya terpilih Mas Adi. Idenya adalah bagaimana komunitas dibikin klister-klaster yang nantinya tidak hanya di sini saja. Melainkan bisa dikembangkan ke kecamatan-kecamatan,” ucapnya.

Ia juga menuturkan, bagi para anak muda berminat untuk bergabung dengan komunitas petani milenial bisa dilatih. ’’Selain buah nanti bisa juga padi organik, peternakan, dan yang lainnya,” jelas Bupati.

Terkait inovasi Agrowisata Girli Farm, Bupati berharap  bisa menginspirasi anak-anak muda Blora. Bahwa, beternak dan bertani kalau dikelola secara profesional ternyata keren dan menghasilkan.

Ia juga menambahkan, pihaknya juga akan minta bantuan dari sektor permodalan perbankan, baik dari BI maupun bank-bank daerah untuk mendukung program pertanian milenial. (*/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Arief Rohman #agrowisata #Melon #kebun #sdm #Wisata #petik buah #Petani #greenhouse #blora #wisata petik melon #Japah #bupati blora